MARKET NEWS

Saham Nikel Terkoreksi usai Reli, Analis Soroti Empat Emiten Ini

TIM RISET IDX CHANNEL 08/01/2026 11:26 WIB

Saham emiten tambang nikel merosot pada Kamis (8/1/2026) di tengah aksi ambil untung (profit taking) usai reli dalam beberapa hari terakhir.

Saham Nikel Terkoreksi usai Reli, Analis Soroti Empat Emiten Ini. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Saham emiten tambang nikel merosot pada Kamis (8/1/2026) di tengah aksi ambil untung (profit taking) usai reli dalam beberapa hari terakhir.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 11.01 WIB, saham PT Pelat Timah Indonesia Tbk (NIKL) anjlok 6,25 persen ke Rp420 per unit. Dalam sepekan, saham NIKL masih melesat 22,54 persen.

Saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) juga tergerus 6,06 persen ke Rp930 per unit, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NKCL) merosot 3,93 persen menjadi Rp1.345 per unit, dan PT PAM Mineral Tbk (NICL) terbenam 3,83 persen.

Lebih lanjut, saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) minus 3,75 persen, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berkurang 3,73 persen, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terdepresiasi 3,64 persen, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) 3,56 persen, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 2,94 persen.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan koreksi harga nikel terjadi setelah pergerakannya dinilai terlalu ekstrem dalam waktu singkat.

“Harga nikel terkoreksi berhubung pergerakannya yang terlalu ekstrem,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Kondisi tersebut, menurut dia, berimbas langsung ke pergerakan saham-saham emiten nikel. “Ini mengakibatkan saham-saham nikel juga mengalami aksi profit taking,” imbuh dia.

Meski demikian, Michael melihat adanya sinyal positif dari aliran dana asing. Ia menilai pergerakan saham nikel pada perdagangan sebelumnya justru dipicu oleh aksi beli investor asing.

Dari sisi fundamental, Michael menilai prospek sektor nikel masih menarik ke depan. Ia menyebut potensi pengetatan pasokan dapat menjadi penopang harga.

Dalam kondisi tersebut, Michael menilai sejumlah saham nikel masih layak dicermati investor. “Nama-nama seperti INCO, MBMA, NCKL, dan MDKA adalah unggulan dari sektor ini,” demikian kata Michael.

Harga nikel bergerak stabil pada Kamis (8/1/2026) setelah melewati periode perdagangan yang volatil, seiring investor tetap berspekulasi terhadap risiko pasokan dari Indonesia, produsen terbesar dunia.

Mengutip Bloomberg, kontrak berjangka (futures) nikel kontrak tiga bulan bertahan di kisaran USD17.900 per ton, setelah sempat tertekan pada Rabu.

Meski demikian, harga nikel masih naik sekitar 7 persen sepanjang pekan ini dan berada di dekat level tertinggi dalam 19 bulan terakhir.

Indonesia sebelumnya memberi sinyal rencana pengurangan produksi tahun ini guna menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Kementerian ESDM dijadwalkan menggelar paparan pada Kamis, yang berpotensi mengumumkan rincian kuota produksi tambang untuk 2026.

Nikel, yang digunakan dalam baterai dan baja tahan karat, telah melonjak hampir 30 persen sejak pertengahan Desember. Kenaikan ini sejalan dengan reli logam lainnya, termasuk tembaga dan aluminium.

Harga logam terdorong oleh gelombang aksi beli dari pelaku pasar China, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik global.

Analis UOB Kay Hian Holdings Ltd., Benyamin Mikael, menilai keberlanjutan kenaikan harga nikel masih belum pasti.

“Keberlanjutan harga nikel tetap tidak pasti, kecuali pengurangan kuota benar-benar diterapkan secara signifikan dan konsisten,” tulisnya dalam sebuah catatan.

Ia menambahkan, dampak kebijakan tersebut kemungkinan masih terbatas dalam jangka pendek, karena sebagian besar investasi yang sudah berkomitmen umumnya dikecualikan dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Pada perdagangan London Metal Exchange (LME), harga nikel naik tipis 0,1 persen menjadi USD17.920 per ton hingga pukul 10.56 waktu Shanghai. Sementara itu, pergerakan logam lain cenderung bervariasi, dengan harga tembaga relatif stabil di USD12.914,50 per ton. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE