MARKET NEWS

Saham Prajogo Melonjak di Tengah Ancaman Outflow Triliunan Rupiah, Ada Penyerap Dana Asing?

TIM RISET IDX CHANNEL 29/05/2026 09:47 WIB

Saham Grup Barito besutan taipan Prajogo Pangestu justru terbang tinggi di tengah potensi arus dana keluar (outflow) triliunan rupiah akibat rebalancing MSCI.

Saham Prajogo Melonjak di Tengah Ancaman Outflow Triliunan Rupiah, Ada Penyerap Dana Asing? (Foto: Magnific)

IDXChannel - Saham-saham Grup Barito besutan taipan Prajogo Pangestu justru terbang tinggi di tengah potensi arus dana keluar (outflow) triliunan rupiah akibat rebalancing indeks MSCI yang efektif pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026).

Pengamat pasar menilai penguatan tajam ini menjadi sinyal adanya pihak yang siap menyerap aksi jual asing dari saham-saham yang terdepak dari indeks global tersebut.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.26 WIB, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melonjak hingga auto rejection atas (ARA) 25 persen ke level Rp3.300 per saham.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp877 miliar dengan volume perdagangan 265,9 juta saham.

Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga melesat hingga ARA, tepatnya naik 24,75 persen menjadi Rp630 per saham.

Kenaikan signifikan turut terjadi pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang menguat 5 persen ke Rp1.995, PT Petrosea Tbk (PTRO) naik 16,58 persen ke Rp4.360, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melesat 18,97 persen ke Rp1.850.

Selain itu, saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga menguat 11,26 persen ke level Rp840.

Penguatan tersebut terjadi setelah saham-saham Prajogo sebelumnya mengalami tekanan jual cukup dalam sejak diumumkan keluar dari MSCI, ditambah sentimen eksternal dan domestik yang membebani pasar.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai lonjakan saham-saham Grup Barito menandakan adanya pihak yang siap menyerap aksi jual investor asing menjelang efektifnya rebalancing MSCI.

“Ini mengindikasikan bahwa ada pihak yang akan menyerap semua seller dari MSCI. Estimasi terutama di BREN ada di kisaran Rp1,7 triliun, begitu juga CUAN sekitar Rp1,5 triliun dan TPIA sekitar Rp2 triliun,” ujar Michael.

Menurut dia, tekanan pasar saat ini bukan hanya berasal dari keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI maupun FTSE. Investor juga masih dibayangi ketidakpastian global serta kondisi domestik yang belum kondusif.

Michael menambahkan pelemahan rupiah terhadap hampir seluruh mata uang asing turut menjadi perhatian pelaku pasar dan berpotensi memengaruhi arus dana asing di pasar saham Indonesia.

Sebelumnya, MSCI pada 13 Mei 2026 telah mengumumkan hasil review indeks Mei 2026. Perubahan tersebut efektif pada penutupan perdagangan hari ini dan mulai berlaku pada 1 Juni 2026.

Dalam review tersebut, MSCI menghapus AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT dari MSCI Global Standard Index tanpa adanya tambahan saham baru dari Indonesia.

Sementara pada MSCI Small Cap Index, AMRT yang turun peringkat menjadi satu-satunya saham yang masuk. Di sisi lain, MSCI mengeluarkan ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG dari indeks tersebut.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, saham yang keluar dari indeks MSCI berpotensi mengalami tekanan jual akibat aksi rebalancing fund asing dan ETF berbasis MSCI. Volatilitas pasar juga diperkirakan meningkat menjelang akhir Mei seiring penyesuaian portofolio investor institusi.

Selain itu, tidak adanya saham baru Indonesia yang masuk ke MSCI Global Standard Index dinilai menjadi sentimen tersendiri bagi pasar domestik.

BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat jadwal review MSCI berikutnya akan diumumkan pada 12 Agustus 2026 dan efektif berlaku mulai 1 September 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE