MARKET NEWS

Saham Properti APLN, KIJA, hingga BSDE Tiba-Tiba Terbang, Simak Analisisnya

TIM RISET IDX CHANNEL 19/08/2026 09:44 WIB

Saham-saham sektor properti dan kawasan industri menguat tajam pada perdagangan Rabu (19/8/2026), di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Saham Properti APLN, KIJA, hingga BSDE Tiba-Tiba Terbang, Simak Analisisnya. (Foto:

IDXChannel – Saham-saham sektor properti dan kawasan industri menguat tajam pada perdagangan Rabu (19/8/2026), di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Penguatan tersebut terjadi saat pasar mencermati rencana pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang dinilai dapat menjadi katalis bagi sektor properti.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.29 WIB, indeks sektor properti menguat 1,68 persen, berlawanan arah dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 0,16 persen ke 6.435.

Penurunan indeks terjadi seiring jatuhnya saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang menjadi salah satu big cap.

Saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) melonjak 13,86 persen ke Rp189 per unit, disusul PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) yang mendaki 12,41 persen ke Rp154 per unit.

Kemudian, saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) melambung 9,02 persen ke Rp665 per unit, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) terkerek 6,20 persen, PT Mega Manunggal Property Tbk (PWON) naik 6,20 persen.

Selanjutnya, saham PT Intiland Development Tbk (DILD) terapresiasi 5,17 persen, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) 4,58 persen, PT Sentul City Tbk (BKSL) 3,90 persen, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) 3,31 persen, dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) 3,12 persen.

Menanti PFII

Rencana pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek bagi sektor properti.

Namun, dampaknya terhadap fundamental emiten properti diperkirakan masih terbatas selama rencana tersebut belum direalisasikan secara konkret.

BRI Danareksa Sekuritas menilai, Rabu (19/8), sentimen PFII dapat memberikan dorongan terhadap saham-saham properti, terutama emiten yang memiliki eksposur terhadap kawasan pengembangan dan potensi landbank yang relevan.

Sejumlah emiten properti besar seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), BSDE, PWON, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menjadi bagian dari emiten yang berpotensi mendapat perhatian pasar.

Sementara itu, PT Sentul City Tbk (BKSL) menjadi salah satu emiten yang menarik dicermati karena memiliki landbank sekitar 14.543 hektare.

Luas lahan tersebut dinilai memberikan potensi apabila pengembangan PFII nantinya turut mencakup kawasan yang dimiliki perseroan.

PFII sendiri diarahkan sebagai pusat yang dapat mengakomodasi berbagai aktivitas jasa keuangan global.

Pemerintah sebelumnya memperkirakan kawasan tersebut berpotensi menarik investasi global hingga Rp500 triliun.

Dari sisi lokasi, pemerintah masih melakukan pembahasan. PFII berpotensi terlebih dahulu beroperasi di Jakarta pada masa transisi, sebelum pengembangannya diperluas ke Jakarta dan Bali.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, meski PFII dapat menjadi sentimen positif bagi saham properti dalam jangka pendek, investor tetap perlu mencermati realisasi proyek dan dampaknya terhadap kinerja perusahaan.

Tren Akumulasi

Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto menilai pergerakan saham properti belakangan ini tidak terlepas dari adanya aktivitas akumulasi yang telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir.

"Kalau melihat dari aktivitas perdagangannya, maka jawabannya jadi lebih jelas: sudah ada akumulasi besar sejak bulan Juni di saham-saham properti, khususnya APLN, BSDE, SMRA, DMAS," ujar William, Rabu (19/8).

Menurut dia, penguatan pada sejumlah saham properti tersebut belum serta-merta mencerminkan adanya akumulasi pada seluruh saham di sektor tersebut.

Saham-saham properti lain justru dinilai lebih banyak bergerak karena dorongan spekulasi pasar.

Lebih lanjut, William melihat tren sektor properti saat ini sudah menunjukkan kecenderungan positif.

"Melihat trennya sudah naik, maka strategi trend following bisa dilakukan, cukup dengan pembelian di saat terjadi koreksi terbatas pada area moving average 5-hari (MA-5) dan itu sudah bisa jadi sinyal buy," tutur William. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE