Saham Sawit (CPO) Lanjut Pesta, SIMP Terbang 17 Persen
Saham emiten perkebunan sawit dan produsen crude palm oil (CPO) kembali melonjak pada Selasa (13/4/2026), melanjutkan momentum positif sebelumnya.
IDXChannel – Saham emiten perkebunan sawit dan produsen crude palm oil (CPO) kembali melonjak pada Selasa (13/4/2026), melanjutkan momentum positif sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), per pukul 10.31 WIB, saham-saham perkebunan bergerak menguat dengan kenaikan yang relatif merata, dipimpin oleh PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang melonjak 17,20 persen ke Rp920 per unit usai ditutup melambung 18,05 persen sehari sebelumnya.
Dengan ini, saham SIMP sudah reli selama 5 hari beruntun.
Kenaikan SIMP diikuti oleh PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang naik 7,10 persen ke Rp1.660, serta PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menguat 6,28 persen ke Rp2.520 per unit.
Selanjutnya, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) naik 5,31 persen, disusul PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) 4,88 persen, dan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) 3,23 persen.
Penguatan juga terjadi pada PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) sebesar 2,76 persen, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 2,62 persen, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) 2,42 persen, serta PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) 2,22 persen.
Sementara itu, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) naik 1,89 persen dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menguat 1,57 persen.
Sektor Sawit dan B50
Kebijakan mandatori biodiesel B50 yang akan berlaku mulai 1 Juli 2026 dinilai memperkuat prospek harga CPO.
Riset Indo Premier Sekuritas yang terbit pada 7 April 2026 menyebutkan kebijakan ini berpotensi memperketat pasokan global dan mendorong kenaikan harga CPO dalam beberapa tahun ke depan.
Analis Indo Premier Sekuritas menyebutkan, penerapan B50 diperkirakan menyerap sekitar 3 juta ton CPO per tahun atau sekitar 4 persen dari permintaan global, sehingga mendukung tren kenaikan harga.
Untuk 2026, Indo Premier menaikkan proyeksi harga rata-rata CPO menjadi MYR4.600 per ton atau naik 13 persen dari estimasi sebelumnya dan tumbuh sekitar 8 persen secara tahunan.
Untuk 2027-2028, harga CPO diperkirakan naik menjadi sekitar MYR5.000 per ton per tahun, didorong oleh implementasi penuh B50, potensi pengetatan pasokan akibat El Niño, serta melemahnya produktivitas tandan buah segar (FFB) dari lahan yang kurang terkelola.
Proyeksi ini didasarkan pada pola kenaikan harga rata-rata CPO saat kebijakan biodiesel sebelumnya diberlakukan.
Indo Premier menjelaskan, kebijakan B50 juga bertujuan memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, dengan dukungan subsidi yang lebih jelas seiring harga minyak di kisaran USD100 per barel dan kenaikan pungutan ekspor sebesar 2,5 persen pada awal Maret 2026.
Kebutuhan FAME (bahan baku biodiesel berbasis minyak sawit) diperkirakan dipenuhi melalui peningkatan utilisasi kapasitas hingga 87 persen pada 2026 dan 100 persen pada 2027, sementara kebutuhan metanol masih mengandalkan impor karena kapasitas domestik baru mencakup sekitar 20 persen kebutuhan.
Seiring kenaikan harga, Indo Premier menaikkan estimasi laba sektor sawit 2026-2027 sebesar 15-20 persen.
Laba sektor diperkirakan tumbuh 13 persen pada 2026 dan 2 persen pada 2027, meskipun biaya pembelian eksternal, pupuk, dan potensi penurunan volume akibat El Niño tetap menjadi tekanan.
Pada 2028, laba inti sektor diproyeksikan tumbuh sekitar 6 persen, didukung penurunan biaya pupuk dan stabilnya volume produksi.
Secara keseluruhan, Indo Premier kini memperkirakan pertumbuhan laba sektor sawit mencapai CAGR 7 persen pada periode 2025-2028, jauh membaik dibandingkan proyeksi sebelumnya yang masih negatif.
Dengan prospek harga yang lebih kuat, Indo Premier meningkatkan rekomendasi sektor sawit menjadi overweight dari sebelumnya netral.
Valuasi sektor saat ini dinilai masih menarik dengan kisaran 7 kali price to earnings (P/E) 2026 dan 0,5 kali PEG (rasio price earnings terhadap pertumbuhan laba) 2026, sehingga membuka ruang re-rating.
Soal pergerakan harga terbaru, kontrak berjangka (futures) CPO Malaysia melemah lebih dari 1 persen pada Selasa (14/4), memangkas kenaikan hari sebelumnya, seiring turunnya harga minyak mentah dan minyak nabati pesaing di tengah harapan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives turun 1,45 persen, menjadi 4.489 ringgit per ton pada awal perdagangan. Pada Senin, kontrak ini sempat menguat 0,37 persen.
Dari sisi fundamental, mengutip Reuters, harga minyak mentah turun pada awal perdagangan Asia setelah muncul sinyal potensi dialog antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan akibat blokade AS di Selat Hormuz.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,66 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 1,47 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga turun 0,77 persen.
Pergerakan harga minyak sawit cenderung mengikuti minyak nabati pesaing, mengingat komoditas ini bersaing dalam pasar minyak nabati global. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.