MARKET NEWS

Saprolite Ore Jadi Sumber Pendapatan Baru, Begini Prospek Vale (INCO)

Desi Angriani 29/11/2025 13:00 WIB

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mulai menikmati aliran pendapatan baru dari penjualan saprolite ore pada kuartal III-2025.

Saprolite Ore Jadi Sumber Pendapatan Baru, Begini Prospek Vale (INCO) (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mulai menikmati aliran pendapatan baru dari penjualan saprolite ore pada kuartal III-2025.

Penjualan perdana sebanyak 896.263 wet metric ton (Wmt) dari blok Bahodopi dan Pomalaa terealisasi lebih cepat dari perkiraan yang semula diproyeksikan terjadi pada kuartal akhir.

Kontribusi penjualan saprolite ore mencapai USD43,49 juta atau 6,17 persen dari total pendapatan, sehingga mampu menjadi penopang di tengah penurunan pendapatan nikel matte akibat pelemahan harga jual rata-rata (ASP).

Hingga September 2025, ASP nikel matte tercatat sebesar USD12.106 atau turun 8,72 persen secara tahunan. Kondisi ini menekan pendapatan nikel matte menjadi USD661,9 juta, turun 6,59 persen YoY. Alhasil, total pendapatan INCO hanya terkoreksi tipis 0,45 persen YoY menjadi USD705,39 juta.

Dari sisi operasional, INCO mencatatkan pertumbuhan signifikan. Produksi nikel matte pada kuartal III mencapai 19.391 metrik ton (MT), naik 4,49 persen QoQ dan 7,68 persen YoY.

Pencapaian ini merupakan level produksi kuartalan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Volume penjualan juga meningkat 10,19 persen YoY menjadi 19.557 MT.

Kinerja kuat tersebut merupakan efek dari percepatan maintenance pada kuartal II yang membuat operasional lebih efisien di paruh kedua tahun ini.

Total produksi mencapai 54.975 MT atau naik 4,15 persen YoY hingga kuartal III, setara dengan 77,17 persen dari target produksi 2025. Sementara volume penjualan mencapai 54.675 MT atau 75,69 persen dari target tahunan, sesuai dengan panduan manajemen.

Capex naik 65 persen, percepat proyek Bahodopi dan Pomalaa

Realisasi belanja modal (capex) hingga September 2025, mencapai USD331,4 juta, melonjak 64,96 persen YoY. Dana ini terutama diarahkan untuk mempercepat proyek tambang Bahodopi dan Pomalaa.

Bahodopi sudah mencapai 90 persen per September dan ditargetkan rampung pada akhir tahun. Pomalaa melaju ke progres 44 persen, meningkat dari 28 persen pada akhir semester I, dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2026.

Dengan posisi kas USD496,3 juta, INCO dinilai memiliki ruang cukup untuk melanjutkan strategi ekspansinya.

Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (26/11/2025) menaikkan estimasi nilai wajar saham INCO menjadi Rp5.150 dari sebelumnya Rp3.560, dengan potensi kenaikan 34,46 persen.

Rekomendasi Buy tetap dipertahankan, didukung prospek cerah setelah operasional Bahodopi memasuki fase komersial pada kuartal IV-2025.

Saat ini INCO diperdagangkan di level 0.88x PBV, jauh di bawah rata-rata PBV lima tahunnya di 1.35x, sehingga dinilai masih berada pada zona undervalued.

(DESI ANGRIANI)

SHARE