MARKET NEWS

Sederet Isu Disorot Investor Pekan Ini, Pembukaan Selat Hormuz hingga Pengumuman MSCI

Nia Deviyana 22/06/2026 06:11 WIB

Sederet isu dan agenda ekonomi menjadi perhatian investor pekan ini. Salah satunya terkait pembukaan Selat Hormuz yang masih belum menemui titik terang.

Sederet Isu Disorot Investor Pekan Ini, Pembukaan Selat Hormuz hingga Pengumuman MSCI. Foto: iNews Media Group.

IDXChanel - Sederet isu dan agenda ekonomi menjadi perhatian investor pekan ini. Salah satunya terkait pembukaan Selat Hormuz yang masih belum menemui titik terang. 

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat hanya beberapa hari setelah kedua negara mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik. 

Komando militer gabungan Iran menyebut penutupan selat tersebut merupakan respons atas berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon serta tidak adanya itikad baik dari AS dan kegagalan Washington memenuhi komitmen dalam kerangka gencatan senjata. Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa langkah-langkah lanjutan telah disiapkan apabila agresi terus berlanjut.

Meski demikian, militer AS menegaskan Selat Hormuz tidak ditutup dan lalu lintas pelayaran internasional tetap berjalan normal.

Dari AS, perhatian minggu ini akan terfokus pada data pendapatan dan pengeluaran pribadi bulan Mei, bersama dengan indikator inflasi pilihan Fed, indeks harga PCE. 

Pengeluaran pribadi diperkirakan meningkat 0,6 persen, naik dari kenaikan 0,5 persen pada April, sementara pendapatan pribadi diperkirakan naik 0,4 persen setelah tidak berubah pada bulan sebelumnya. 

Dari sisi inflasi, PCE inti diproyeksikan naik 0,3 persen bulan ke bulan, meningkat dari 0,2 persen pada April dan tetap menyoroti tekanan harga yang mendasar. Perlu dicatat, Federal Reserve menaikkan perkiraan inflasi untuk 2026 dalam proyeksi ekonomi terbarunya. 

Survei PMI S&P Global pendahuluan untuk Juni juga akan dipantau dengan cermat, dengan aktivitas sektor jasa diperkirakan akan semakin menguat, sementara pertumbuhan manufaktur diperkirakan sedikit melambat. Investor juga akan memantau rilis hasil uji stres bank Federal Reserve pada 2026, yang menilai bagaimana kinerja bank-bank besar AS dalam skenario penurunan ekonomi yang parah dan periode tekanan pasar. 

Dari dalam negeri, investor menanti pegumuman penting dari penyedia indeks global MSCI yang akan menentukan nasib pasar modal Indonesia. Hasil tinjauan MSCI 2026 Annual Market Classification Review dijadwalan diumumkan pada 23 Juni 2026 atau 24 Juni 2026 pukul 03.30 waktu Indonesia.

Sebelumnya, dalam MSCI 2026 Global Market Accessibility Review, lembaga tersebut kembali menyoroti persoalan transparansi di pasar saham Indonesia.

MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek information flow dari kategori “+” menjadi “-”, seiring kekhawatiran terhadap keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mengganggu pembentukan harga yang wajar di bursa.

MSCI menilai terbatasnya keterbukaan kepemilikan saham dan indikasi coordinated trading behavior berpotensi menyulitkan investor institusi global dalam mengidentifikasi tingkat free float yang sebenarnya serta mengandalkan harga pasar untuk kebutuhan penyusunan portofolio maupun replikasi indeks.

Sorotan MSCI terhadap transparansi pasar juga menambah perhatian investor terhadap hasil tinjauan klasifikasi yang akan diumumkan pekan depan.

Reuters melaporkan, apabila Indonesia diturunkan dari status emerging market menjadi frontier market, langkah tersebut berpotensi memicu arus keluar dana hingga mencapai USD13 miliar atau setara dengan Rp232,05 triliun (asumsi kurs Rp17.850 per USD) dari pasar domestik.

Sejak MSCI pertama kali menyampaikan peringatan terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada Januari lalu, regulator dan otoritas pasar telah meluncurkan sejumlah langkah perbaikan. Salah satunya adalah peningkatan ketentuan minimum free float emiten menjadi 15 persen.

Selain isu transparansi, MSCI masih mencatat sejumlah hambatan bagi investor asing, mulai dari keterbatasan informasi emiten dalam bahasa Inggris, belum efisiennya mekanisme pasar valuta asing offshore, hingga sejumlah pembatasan dalam fasilitas stock lending, transfer saham secara in-kind, dan transaksi short selling.

(NIA DEVIYANA)

SHARE