MARKET NEWS

Sederet Saham Ini Dinilai Lebih Tahan Banting di Tengah Gejolak Pasar

TIM RISET IDX CHANNEL 05/11/2026 06:28 WIB

Tekanan jual di pasar saham Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sederet Saham Ini Dinilai Lebih Tahan Banting di Tengah Gejolak Pasar. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Tekanan jual di pasar saham Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Selain dibayangi ancaman perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI, pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi global turut mempersempit ruang pemulihan IHSG.

Di tengah situasi tersebut, investor perlu lebih selektif dengan membidik emiten yang memiliki ketahanan laba, arus kas kuat, dan tingkat utang rendah.

Strategi tersebut tercermin dalam daftar 11 saham pilihan untuk November 2026 yang mencakup AADI, ASII, BBCA, BULL, CMRY, ELSA, GOTO, INKP, TLKM, EXCL, dan UNVR.

Daftar ini mempertahankan 10 saham sebelumnya dengan menambahkan UNVR.

Dalam riset yang terbit pada 3 November 2026, Indonesia Research Team UOB Kay Hian menilai pemulihan pasar ke depan kemungkinan berlangsung tidak merata.

“Kami memperkirakan pemulihan akan berlangsung tidak merata, dengan ditopang oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan menjaga harga jual, laba yang defensif, tingkat utang rendah, dan arus kas yang kuat,” tulis UOB.

Tekanan terhadap pasar saham domestik semakin terasa setelah IHSG turun 18,1 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026.

Koreksi tersebut terjadi setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Sentimen itu sempat menyeret IHSG ke bawah level 5.000 selama Oktober dan awal November.

Sejumlah sektor mengalami tekanan paling dalam, terutama infrastruktur yang terkoreksi 27,4 persen, barang baku 25,3 persen, industri 24,3 persen, dan energi 23,1 persen.

Sementara itu, sektor keuangan dan kesehatan relatif lebih defensif dengan penurunan masing-masing 9,8 persen dan 11,1 persen. Pada periode yang sama, rupiah juga melemah 1,4 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Di tengah tekanan tersebut, portofolio 10 saham pilihan UOB Kay Hian mencatatkan penurunan rata-rata 13,9 persen. Kinerja ini relatif lebih baik dibandingkan IHSG, dengan selisih kinerja mencapai 4,3 poin persentase.

AADI dan ASII menjadi dua saham yang mampu mencatatkan kinerja positif, masing-masing naik 3,4 persen dan 2,9 persen.

Sementara itu, CMRY dan ELSA relatif lebih defensif dengan koreksi masing-masing 4,4 persen dan 4,5 persen.

Sebaliknya, BULL dan EXCL menjadi saham dengan penurunan terdalam, masing-masing 34,4 persen dan 30 persen. INKP dan BBCA juga terkoreksi cukup dalam, yakni 21,5 persen dan 19,4 persen.

Ketahanan laba jadi pertimbangan

Memasuki November, ketahanan laba emiten menjadi semakin penting di tengah lingkungan makroekonomi yang lebih menantang.

Dari 43 perusahaan dalam cakupan riset yang telah melaporkan kinerja sembilan bulan pertama 2026, sebanyak 42 persen berhasil melampaui estimasi UOB Kay Hian.

Sebanyak 28 persen mencatatkan hasil sesuai ekspektasi, sedangkan 30 persen lainnya berada di bawah perkiraan.

Secara agregat, pendapatan dan laba bersih perusahaan-perusahaan tersebut masing-masing tumbuh 13 persen dan 19 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Namun, jika perusahaan komoditas dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan keduanya hanya mencapai 7 persen.

Hal ini mengindikasikan momentum pertumbuhan laba yang mendasari kinerja perusahaan masih relatif terbatas.

Tekanan juga berpotensi datang dari kenaikan imbal hasil obligasi global yang dapat menekan rupiah sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan Bank Indonesia (BI).

Kondisi tersebut berisiko meningkatkan biaya pinjaman perusahaan.

Selain itu, harga minyak yang masih tinggi serta potensi inflasi pangan akibat fenomena El Nino dapat menekan daya beli masyarakat dan mempertahankan tingginya biaya input.

Dengan kondisi tersebut, pemulihan kinerja emiten diperkirakan tidak berlangsung merata.

Perusahaan dengan kemampuan menjaga harga jual, laba yang defensif, tingkat utang rendah, serta arus kas kuat dinilai memiliki ketahanan lebih baik.

Ketidakpastian MSCI masih membayangi

Di luar faktor fundamental, rencana MSCI mengubah klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih menjadi risiko struktural bagi pasar saham domestik.

Proses konsultasi tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final ditargetkan keluar paling lambat 30 Juni 2027.

Selama periode tersebut, partisipasi investor asing berpotensi tetap rendah dan membatasi ruang pemulihan valuasi saham Indonesia.

Dalam jangka pendek, perhatian pasar juga tertuju pada pengumuman tinjauan indeks berkala MSCI pada 11 November 2026, dengan perubahan komposisi berlaku efektif pada 1 Desember 2026.

Berdasarkan estimasi kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float dalam denominasi dolar AS, UOB Kay Hian menilai BRPT, BRMS, dan UNTR berpotensi masuk dalam daftar kandidat saham yang dikeluarkan dari indeks.

Khusus UNTR, risiko tambahan muncul dari kemungkinan penurunan Foreign Inclusion Factor (FIF) menyusul aksi pembelian kembali saham atau buyback.

Meski demikian, UOB menegaskan proyeksi tersebut masih berupa estimasi. Ambang batas akhir, harga acuan, serta perlakuan terhadap free float tetap akan ditentukan oleh MSCI.

Pertahankan 10 saham, tambah UNVR

Menghadapi berbagai risiko tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan AADI, ASII, BBCA, BULL, CMRY, ELSA, GOTO, INKP, TLKM, dan EXCL sebagai saham pilihan November. UNVR menjadi tambahan baru dalam daftar tersebut.

BBCA, ASII, dan TLKM memiliki eksposur langsung terhadap potensi penjualan oleh investor pasif apabila MSCI melanjutkan rencana perubahan klasifikasi Indonesia.

Arus dana asing bahkan berpotensi lebih mendominasi pergerakan saham dibandingkan kinerja fundamental selama periode konsultasi.

Namun, tim riset UOB menilai kinerja operasional ketiga emiten pada kuartal III-2026 masih mendukung keputusan untuk mempertahankannya.

BBCA mencatatkan kenaikan laba bersih 5,6 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga membaik menjadi 5,6 persen dari 5,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Selain itu, perseroan menaikkan panduan pertumbuhan kredit menjadi 10-11 persen.

Sementara itu, laba bersih inti ASII mencapai Rp9,7 triliun pada kuartal III-2026, tumbuh 19,7 persen secara kuartalan dan 11,5 persen secara tahunan.

Dengan capaian tersebut, realisasi laba bersih inti selama sembilan bulan pertama 2026 telah mencapai 87 persen dari estimasi UOB Kay Hian dan 84 persen dari konsensus.

Kinerja ASII ditopang pemulihan bisnis jasa pertambangan dan alat berat serta dimulainya kembali produksi emas Martabe.

Rencana buyback senilai Rp8 triliun dan penawaran tender saham AUTO juga dinilai memberikan dukungan dari sisi pengelolaan modal.

TLKM tetap dipertahankan meskipun mencatatkan sejumlah biaya yang terkonsentrasi pada kuartal III-2026, termasuk biaya nonoperasional.

UOB Kay Hian memperkirakan pendapatan bisnis seluler perseroan berpotensi stabil pada kuartal IV-2026.

Di sisi lain, UNVR ditambahkan ke dalam daftar saham pilihan karena perbaikan volume penjualan dan prospek dividennya.

Pendapatan UNVR telah tumbuh selama lima kuartal berturut-turut. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, penjualan meningkat 7,2 persen, sedangkan laba dari operasi yang dilanjutkan tumbuh 10,6 persen.

UOB Kay Hian juga menyoroti kebijakan pembagian dividen UNVR dengan rasio pembayaran 100 persen. Perseroan diperkirakan membagikan dividen interim sebelum akhir tahun ini. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE