Sektor Ini Berpotensi Cuan Berkat Stimulus Pemerintah, Intip Saham Pilihannya
Sektor barang konsumsi cepat saji (FMCG) di Indonesia dinilai masih prospektif seiring meningkatnya aliran dana ke masyarakat lapisan bawah (grassroots).
IDXChannel - Sektor barang konsumsi cepat saji (FMCG) di Indonesia dinilai masih prospektif seiring meningkatnya aliran dana ke masyarakat lapisan bawah (grassroots), terutama di wilayah kota kecil dan pedesaan.
Analis Nomura Heng Siong Kong menyebutkan, dikutip Dow Jones Newswires, Rabu (15/4/2026), dorongan tersebut berasal dari tiga program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan program pertanian.
Sekitar 90 persen alokasi anggaran dari program tersebut mengalir ke daerah pedesaan dan kota kecil.
Kondisi ini diperkirakan akan mendorong permintaan produk FMCG, sehingga sektor ini menjadi salah satu penerima manfaat utama dari peningkatan daya beli masyarakat.
Selain itu, potensi kenaikan inflasi akibat konflik di Timur Tengah dinilai dapat diredam oleh stimulus dari program-program tersebut, sehingga konsumsi domestik tetap terjaga.
Nomura merekomendasikan emiten dengan potensi pertumbuhan penjualan kuat untuk mengimbangi tekanan margin. Saham unggulan di sektor ini adalah PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ) dengan rekomendasi beli.
Hal ini sejalan dengan riset Verdhana Sekuritas pada 14 April 2026 yang menilai pertumbuhan penjualan sektor FMCG mulai pulih seiring peningkatan belanja pemerintah.
Setelah sempat melambat pada paruh pertama 2025 akibat pengetatan anggaran, konsumsi kembali meningkat pada kuartal IV 2025 saat program makan gratis mulai berjalan, yang mendorong lonjakan penjualan serta aktivitas distribusi menjelang musim perayaan.
Memasuki kuartal I-2026, penjualan ke konsumen tetap tumbuh, ditopang belanja pemerintah yang lebih tinggi. Meski sempat terjadi gangguan logistik di sejumlah pelabuhan di Jawa pada Februari, distribusi ke luar pulau dilaporkan kembali normal pada awal April.
Dari sisi kategori, produk susu (dairy) menjadi penerima manfaat utama program MBG.
Emiten seperti ULTJ, Cisarua Mountain Dairy (CMRY), dan Mulia Boga Raya (KEJU) diperkirakan mencatat pertumbuhan penjualan dan laba yang lebih kuat dibandingkan peers.
Selain itu, produsen rokok Wismilak Inti Makmur (WIIM) juga mencatat pertumbuhan dua digit, didorong permintaan dari masyarakat lapisan bawah.
Sebaliknya, produk musiman seperti mi instan Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), biskuit Mayora Indah (MYOR), serta produk kesehatan konsumen Kalbe Farma (KLBF) berpotensi mengalami penurunan distribusi pada awal 2026, karena sebagian penjualan telah terealisasi lebih awal pada kuartal IV-2025.
Namun, kondisi ini dinilai sementara dan diperkirakan akan pulih seiring percepatan restocking oleh ritel.
Dari sisi biaya, tekanan akibat kenaikan harga bahan baku diperkirakan mulai terasa pada kuartal II-2026. Mayoritas pelaku industri cenderung menekan biaya iklan dan promosi serta melakukan penyesuaian ukuran produk, ketimbang menaikkan harga jual. Hingga kini, hanya beberapa emiten seperti ULTJ dan Sariguna Primatirta (CLEO) yang telah menaikkan harga secara signifikan.
Verdhana tetap optimistis terhadap sektor FMCG, didukung aliran dana pemerintah ke masyarakat lapisan bawah melalui program MBG, koperasi desa, dan pertanian.
Sektor ini dinilai akan menjadi penerima manfaat utama dari peningkatan daya beli, dengan saham unggulan di antaranya ULTJ, CMRY, dan MYOR. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.