MARKET NEWS

Sell in May? Peluang Dinilai Tetap Ada, Intip Saham-Saham Pilihannya

TIM RISET IDX CHANNEL 04/05/2026 06:56 WIB

Memasuki awal Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru datang dalam kondisi sudah tertekan lebih dulu.

Sell in May? Peluang Dinilai Tetap Ada, Intip Saham-Saham Pilihannya. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Memasuki awal Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru datang dalam kondisi sudah tertekan lebih dulu.

Pola musiman “Sell in May and Go Away”, yang menggambarkan kecenderungan pasar yang melambat di pertengahan tahun dibanding periode awal dan akhir tahun, tahun ini tampak bergeser sekaligus membuka ruang bagi peluang yang lebih selektif.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (30/4/2026), secara historis periode 2017-2026 menunjukkan Mei memang bukan bulan yang kuat bagi IHSG.

Probabilitas kenaikan tercatat hanya 33 persen, sementara peluang penurunan mencapai 67 persen. Dengan kata lain, hanya 3 dari 9 tahun terakhir IHSG mampu membukukan kinerja positif di bulan ini.

Namun, dinamika tahun ini berbeda. IHSG telah lebih dulu terkoreksi sekitar 19,55 persen secara year-to-date (YtD) ke level 6.956,80 per akhir April 2026. Artinya, tekanan yang biasanya muncul di Mei sudah terjadi lebih awal.

Dari sisi domestik, sentimen pasar sempat tertekan oleh sorotan MSCI terkait aspek investability, khususnya transparansi dan struktur kepemilikan saham. Isu ini memicu kekhawatiran investor asing dan menahan aliran dana masuk.

Otoritas pasar pun merespons dengan mendorong peningkatan keterbukaan data serta perbaikan struktur free float.

Sementara dari eksternal, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong lonjakan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi global dan meningkatkan minat terhadap aset safe haven.

Di sisi lain, pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.370 per USD turut menambah tekanan terhadap aset berisiko di dalam negeri.

Dengan kombinasi faktor tersebut, Mei kini lebih dipandang sebagai fase lanjutan tekanan atau bahkan potensi awal stabilisasi, tergantung perkembangan sentimen global dan respons kebijakan domestik.

Di tengah kecenderungan tersebut, peluang justru muncul pada saham-saham tertentu. BRI Danareksa mencatat sejumlah emiten dengan probabilitas kenaikan tinggi di Mei berdasarkan data historis 10 tahun terakhir.

Saham tambang tembaga-emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat probabilitas kenaikan tertinggi sebesar 89 persen, dengan frekuensi naik 8 kali dari 9 periode pengamatan.

Sementara itu, emiten migas milik Happy Hapsoro PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), emiten  solusi kebutuhan rumah tangga milik Kawan Lama PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), tambang nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan emiten kertas Sinarmas PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) masing-masing memiliki probabilitas kenaikan sebesar 67 persen.

Secara sektoral, saham-saham tersebut didominasi oleh sektor komoditas, energi, dan consumer.

Hal ini menegaskan, demikian kata BRI Danareksa, pergerakan pasar di Mei cenderung lebih selektif atau bersifat stock-specific.

Sejalan dengan itu, strategi yang dinilai lebih optimal adalah akumulasi bertahap dan selective buying, alih-alih mengandalkan pergerakan indeks secara keseluruhan.

Di sisi lain, CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) mencatat sejumlah katalis dari domestik yang perlu dicermati pasar dalam waktu dekat.

Di antaranya rilis data kepemilikan saham di atas 1 persen pada awal Mei dan Juni, pengumuman FTSE pada 22 Mei, serta publikasi data free float MSCI. Selain itu, potensi penyesuaian bobot saham juga diperkirakan muncul dalam review kuartalan MSCI pada 12 Mei 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE