MARKET NEWS

Sentimen Global Bayangi IHSG Pekan Ini, Data Inflasi AS Jadi Sorotan

Anggie Ariesta 13/07/2026 07:54 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan 13-17 Juli 2026 dinilai akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Sentimen Global Bayangi IHSG Pekan Ini, Data Inflasi AS Jadi Sorotan (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan 13-17 Juli 2026 akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026), IHSG menguat 2,82 persen secara mingguan ke level 6.177. Meski demikian, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,5 triliun di pasar reguler.

Menurut David, meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong investor global menerapkan strategi risk-off, yakni mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.

"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas," ujar David dalam risetnya, Senin (13/7/2026).

Ia menjelaskan, pergerakan dana global saat ini dipengaruhi oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk konfrontasi terbuka antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dan distribusi minyak dunia.

Situasi tersebut mendorong aliran dana menuju aset safe haven, seperti emas dan dolar Amerika Serikat. Akibatnya, harga emas dunia berpotensi menguat, sementara dolar AS diperkirakan tetap berada dalam tren penguatan.

Dari dalam negeri, David menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Hingga semester I-2026, realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimal defisit APBN sebesar 3 persen dari PDB. Namun, David mengingatkan pemerintah tetap perlu mewaspadai laju belanja negara yang tumbuh lebih cepat dibandingkan penerimaan.

"Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan lebih ketat dan selektif pada paruh kedua tahun ini. Langkah ini penting untuk meminimalkan risiko penambahan utang yang tidak efisien sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global," katanya.

Sepanjang perdagangan 13-17 Juli 2026, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi global. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan terbit pada Selasa. Data tersebut dinilai akan menjadi indikator penting bagi pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Selain itu, investor juga akan memantau pidato sejumlah pejabat bank sentral AS serta publikasi data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura.

Sementara itu, dari dalam negeri, pergerakan rupiah dan pasar saham diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah.

Adapun rekomendasi investasi dari IPOT untuk pekan ini meliputi:

- Buy on Pullback PGEO dengan area masuk di 975, target harga 1.070 atau potensi kenaikan 9,74 persen, dan stop loss 945.
- Buy LSIP di level 1.295, dengan target harga 1.400 atau potensi kenaikan 8,11 persen, serta stop loss 1.255.
- Buy on Pullback BUVA pada kisaran 820-830, target harga 900 atau potensi kenaikan 9,76 persen, dengan stop loss 795.
- Buy Obligasi PBS038.

(Shifa Nurhaliza Putri)

SHARE