Sinergi Multi (SMLE) Rangkul Raksasa Pangan Denmark Bidik Pasar Asia
SMLE melepas 50 persen saham anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom/SAS), kepada produsen bahan tambahan pangan asal Denmark, Denico Food Ingredients.
IDXChannel - Aksi korporasi PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) melepas 50 persen saham anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom/SAS), kepada produsen bahan tambahan pangan asal Denmark, Denico Food Ingredients.
Hal ini menandai langkah strategis perseroan merambah pasar bahan baku pangan olahan internasional.
Dalam paparan publik insidentil perseroan, Direktur Utama SMLE Siu Min menegaskan aksi pengambilalihan saham eksisting ini tidak dilakukan melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture) baru, melainkan divestasi saham entitas anak yang ditargetkan rampung pada Januari hingga Februari 2027.
SMLE pun dipastikan tetap memegang kendali penuh atas operasional Sinarom. "Dengan adanya Denico mengambil alih 50 persen saham SAS, kami memiliki keyakinan bahwa bisnis Sinar Aroma sendiri bisa dieskalasi ke arah yang lebih besar. Kami juga bisa memanfaatkan pasar yang sudah terbentuk oleh Denico, terutama di Asia dan Timur Tengah," ujar Direktur Utama SMLE Siu Min dikutip Kamis (15/10/2026).
Kemitraan lintas benua ini membawa nilai strategis tinggi bagi SMLE mengingat rekam jejak Denico Food Ingredients yang telah beroperasi selama seperempat abad sejak 2001 di Denmark. Denico mengelola portofolio lebih dari 800 jenis bahan baku pangan, di mana 80 persen porsi penjualannya merambah pasar ekspor di luar kawasan Uni Eropa.
Selain mengantongi sertifikasi keamanan pangan International Featured Standards (IFS) Food serta izin Otoritas Kedokteran Hewan & Makanan Denmark (DVFA), Denico juga mengoperasikan lini produk B2B bersertifikat halal guna melayani industri pengolahan daging, olahan susu, dan makanan laut berskala besar di dunia.
Masuknya Denico bakal mentransformasi Sinarom yang didirikan pada 2024 dan sebelumnya hanya terbatas pada peracikan perisa serta campuran minyak rempah menjadi New Sinarom.
Melalui transfer teknologi dan formulasi Eropa, entitas baru ini mengekspansi portofolionya ke lima kategori bisnis baru, solusi daging olahan dan unggas, mayones dan saus, olahan susu dan es krim, pemrosesan makanan laut, serta bumbu makanan ringan.
Perseroan memosisikan pasar dalam negeri sebagai fondasi awal dengan potensi nilai pasar yang dibidik mencapai 50 juta hingga 76 juta dollar AS.
Jangkauan ke pasar Timur Tengah dan Afrika Utara sendiri akan digerakkan dengan memanfaatkan kantor operasional Denico di Dubai.
"Indonesia diposisikan sebagai basis produksi bahan baku untuk pasar regional. Jadi untuk New Sinarom, bisnis yang kami targetkan itu bukan hanya untuk di Indonesia saja, tetapi untuk skala di Asia, Asia Tenggara, dan sampai ke Timur Tengah," ujar Siu Min.
Dalam sesi tanya jawab paparan publik, Siu Min turut menjawab sejumlah pertanyaan krusial yang menyoroti kesiapan operasional dan implikasi finansial transaksi tersebut, di antaranya soal kapasitas manufaktur di Indonesia.
Siu Min mengungkapkan pihak Denico telah menilai fasilitas pabrik Sinarom saat ini perlu diperbesar untuk menampung peningkatan volume produksi. Hal ini sejalan dengan komitmen Denico untuk mengalihkan sebagian lini manufakturnya ke Indonesia.
"Mereka bersedia untuk membuat produk-produk yang tadinya mereka buat di Belanda untuk beberapa dialihkan ke pabrik yang ada di Indonesia. Jadi ini otomatis akan memperkuat bisnis yang sudah ada eksisting, sehingga kita bisa langsung scale up," tutur Siu Min.
Sementara itu, menanggapi pertanyaan mengenai penentuan harga akuisisi dan proyeksi kinerja keuangan pasca-transaksi, manajemen menegaskan nilai final transaksi belum ditetapkan karena masih mengacu pada evaluasi penilai independen pihak ketiga, bukan audit internal.
Perseroan juga menyatakan belum dapat memberikan proyeksi spesifik angka pendapatan maupun laba atas masuknya Denico, sebab peta bisnis dan potensi volume pengalihan dari Belanda masih difinalisasi dalam proses uji tuntas (due diligence) yang ditargetkan selesai pada akhir 2026. Jika seluruh persetujuan regulator dan OJK terpenuhi, fasilitas produksi di Indonesia dijadwalkan mulai memasok jaringan pasar Denico secara penuh pada semester II-2027.
(kunthi fahmar sandy)