MARKET NEWS

Spindo (ISSP) Bidik Perluasan Pasar dari Kehadiran Kopdes Merah Putih hingga Data Center

Iqbal Dwi Purnama 07/09/2026 20:39 WIB

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) melihat peluang pertumbuhan pasar pipa baja seiring berlanjutnya berbagai program pembangunan pemerintah.

Spindo (ISSP) Bidik Perluasan Pasar dari Kehadiran Kopdes Merah Putih hingga Data Center. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) melihat peluang pertumbuhan pasar pipa baja seiring berlanjutnya berbagai program pembangunan pemerintah dan ekspansi sektor strategis di Indonesia.

Chief Strategy & Business Development Officer, Corporate Secretary & Investor Relation ISSP, Johannes Wahyudi Edward, mengatakan beberapa program pemerintah yang dibidik sebagai market perseroan antara lain program pembangunan koperasi desa merah putih, sekolah rakyat, pengembangan integrated poultry dan dairy megafarm, kawasan industri, perumahan, hingga pembangunan data center.

"Kalau kita lihat dalam skema ini sebetulnya pipa itu sangat banyak ada di sekitar kita. Bahkan untuk Koperasi Merah Putih, kemudian Sekolah Rakyat, Integrated Poultry, Dairy Megafarm, kemudian juga ada Data Center yang sekarang lagi hot," ujar Johannes dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).

Selain itu, perseroan melihat peluang dari pembangunan kawasan industri, proyek minyak dan gas, serta sektor perumahan. Johannes menilai kebutuhan pipa baja tersebar luas di berbagai sektor sehingga memberikan ruang bagi ISSP untuk memperluas pasar.

Spindo memposisikan produk pipa bajanya sebagai komponen fundamental dalam infrastruktur koperasi desa merah putih. 

Setidaknya ada 6 aplikasi utama pipa baja dalam pembangunan koperasi desa merah putih. Sebagai contoh, struktur bangunan dan kanopi menggunakan pipa kotak dan bulat galbani, rak penyimpanan toko menggunakan pipa mekanis untuk area ritel, rak gudang menggunakan pipa struktural untuk penyimpanan logistik, ruang pendingin menggunakan pipa proses karbon untuk menjaga rantai dingin pangan, proteksi kebakaran menggunakan pipa baja hitam, hingga fasilitas pendukung yang menggunakan pipa untuk handrail, troli belanja, hingga pagar pelindung.

Sementara peluang market dari pembangunan data center, terdiri dari pengadaan sistem pendingin yang menggunakan pipa baja karbon untuk air dingin, dan pipa stainless untuk sistem liquid cooling yang lebih canggih. Kemudian digunakan sebagai sistem bahan bakar, menggunakan pipa baja karbon untuk saluran bahan bakar generator cadangan dan sistem pembuangan gas.

Johannes mengatakan keunggulan ISSP terletak pada kemampuan perseroan memproduksi berbagai jenis pipa baja untuk beragam kebutuhan. Dengan cakupan produk yang luas, perseroan dapat menyuplai berbagai sektor, mulai dari konstruksi dan infrastruktur hingga otomotif, furniture, energi dan teknologi.

"Pipa itu ekstensif, masif di dalam setiap sektor kehidupan kita. Mungkin bahkan sampai kursi, kemudian gantungan baju dan sebagainya itu semuanya menggunakan pipa," ujar Johannes.

ISSP juga melihat peluang dari agenda ketahanan energi pemerintah. Johannes mengatakan perkembangan sektor energi, termasuk kebijakan peningkatan penggunaan biodiesel, berpotensi menciptakan kebutuhan perpipaan baru.

Dia mencontohkan kebijakan B60 akan mendorong ekspansi pabrik kelapa sawit (PKS) dan kebutuhan infrastruktur pendukungnya. 

"Ini tentunya membutuhkan ekspansi dari PKS-PKS yang ada dan kami juga mendukung dari sisi perpipaan," katanya.

Selain itu, ISSP juga telah berpartisipasi dalam sejumlah proyek minyak dan gas, termasuk proyek Cisem, dan melihat peluang dari keberlanjutan pembangunan infrastruktur energi nasional. Dengan semakin beragamnya sektor yang dilayani, ISSP menilai strategi diversifikasi pasar menjadi salah satu penopang pertumbuhan perseroan ke depan.

Wakil Direktur Utama ISSP Tedja Sukmana Hudiana menambahkan, perseroan juga melihat adanya perubahan preferensi dari sejumlah kontraktor China yang mengerjakan proyek data center di Indonesia. Menurutnya, kontraktor tersebut mulai memilih produk pipa lokal untuk mengurangi risiko pasokan.

"Kontraktor-kontraktor China ini sekarang juga lebih memilih suplai dari lokal karena mereka juga tidak mau terlalu berisiko," ujar Tedja.

Dia mengatakan, meskipun produk dari China dapat menawarkan harga yang lebih murah, faktor kepastian pasokan, kualitas, dan waktu pengiriman menjadi pertimbangan bagi kontraktor dalam memilih produk. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi ISSP untuk meningkatkan penetrasi produk lokal di tengah pertumbuhan proyek data center di Indonesia.

Pada semester I-2026, ISSP membukukan pendapatan Rp2,84 triliun, tumbuh 8,5 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan mencapai Rp240,5 miliar atau tumbuh 12,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perseroan optimistis kinerja pada semester II-2026 akan lebih kuat, ditopang antara lain oleh proyek-proyek yang masih berjalan, termasuk permintaan dari data center dan proyek pipa gas Dusem.

(NIA DEVIYANA)

SHARE