Strategi Investasi di Tengah Perang Iran, Deretan Saham Ini Jadi Sorotan
Gejolak konflik di Timur Tengah, ditambah ketidakpastian keputusan MSCI terhadap Indonesia, membuat investor mulai menata ulang portofolio sahamnya.
IDXChannel - Gejolak konflik di Timur Tengah, ditambah ketidakpastian keputusan MSCI terhadap Indonesia, membuat investor mulai menata ulang portofolio sahamnya.
Tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah turun tajam sekitar 22 persen ke level 7.101,00 dari rekor tertinggi awal 2026 dan masuk fase bear market semakin mendorong pelaku pasar mencari sektor yang lebih tahan terhadap guncangan global, terutama saham energi yang diuntungkan lonjakan harga minyak.
Eskalasi ketegangan kawasan, terutama yang berpotensi mengganggu jalur energi global seperti Selat Hormuz, mendorong lonjakan harga minyak dan petrokimia, sekaligus membuka peluang bagi emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor energi dan logistik.
Dalam situasi ini, saham-saham berbasis energi dinilai menjadi penerima manfaat utama karena memiliki leverage langsung terhadap kenaikan harga minyak dan gas (migas).
Emiten amonia domestik PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) menonjol berkat eksposur amonia skala besar dengan keunggulan biaya yang struktural.
Dalam sebulan terakhir, saham ESSA melesat 21,95 persen ke Rp750 per unit hingga sesi I Jumat (27/3/2026).
Dari sektor migas, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi salah satu pilihan utama karena memiliki sensitivitas paling langsung terhadap harga minyak.
Saham MEDC naik 8,63 persen dalam sebulan ke Rp1.825 per unit.
Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memang terkoreksi 4,01 persen dalam sebulan.
Namun, ENRG justru melonjak 10,68 persen dalam sepekan terakhir berkat kabar cadangan minyak baru melalui anak usahanya, PT EMP Tunas Energi dari sumur eksplorasi Cenako-1 Twin di blok South CPP, Riau, Sumatera.
Peluang juga terbuka bagi perusahaan distribusi energi seperti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Perusahaan ini dinilai mampu memanfaatkan jaringan logistik dan neraca yang kuat untuk meningkatkan penjualan bahan bakar ke klien domestik.
Saham AKRA sendiri menguat 7,60 persen dalam sebulan terakhir.
Di sektor batu bara, sentimen positif datang dari potensi substitusi gas ke batu bara ketika harga energi melonjak. Kondisi ini mendukung permintaan batu bara dan memperkuat prospek emiten tambang.
Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) memang turun 12,78 persen dalam sebulan, namun PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 15,41 persen, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melonjak 28,06 persen, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 18,77 persen dalam periode yang sama.
Kenaikan harga energi juga berpotensi menguntungkan sektor pelayaran dan jasa migas, terutama karena aktivitas eksplorasi dan pengiriman energi meningkat.
Rerouting pengiriman serta pasokan tanker yang lebih ketat diperkirakan akan mendorong kenaikan tarif sewa kapal dan aktivitas jasa energi, memperluas efek positif di luar sektor hulu.
Pasar dinilai belum sepenuhnya memasukkan dampak primer dan sekunder dari lonjakan harga minyak ke dalam valuasi saham, sehingga peluang re-rating masih terbuka.
Skenario paling agresif menunjukkan harga minyak bisa menembus USD120-130 per barel jika gangguan pasokan di Selat Hormuz berlanjut.
Kondisi ini berpotensi mendorong revisi naik laba emiten energi secara signifikan, meski risiko koreksi cepat tetap ada jika konflik mereda dan pasokan kembali normal.
Di sisi lain, risiko tetap perlu diperhatikan, mulai dari respons suplai oleh OPEC+, pelemahan permintaan global, hingga potensi kebijakan pemerintah seperti pajak windfall atau perluasan Domestic Market Obligation (DMO).
Bahkan dalam skenario gencatan senjata, pemulihan rantai pasok energi diperkirakan tidak berlangsung cepat dan bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.