MARKET NEWS

Tak Cuma MSCI, Pasar Juga Menanti Pengumuman Penting FTSE di Agustus

TIM RISET IDX CHANNEL 04/08/2026 10:11 WIB

Perhatian pelaku pasar pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI.

Tak Cuma MSCI, Pasar Juga Menanti Pengumuman Penting FTSE di Agustus. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Perhatian pelaku pasar pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI.

Investor juga menantikan pengumuman FTSE Russell terkait status pembekuan (freeze) Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto dan Elizabeth Noviana dalam riset tertanggal 3 Agustus 2026 menyebutkan, mulai pekan kedua Agustus pasar akan mencermati sejumlah agenda yang berpotensi menggerakkan pasar.

Salah satunya adalah pembaruan FTSE terkait status freeze Indonesia yang diperkirakan diumumkan pada periode 10-14 Agustus 2026.

Meski demikian, dalam riset sebelumnya yang diterbitkan pada 23 Juli 2026, CGSI mengingatkan bahwa arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi.

Menurut mereka, reformasi yang telah dilakukan regulator memang menjadi perkembangan positif, namun belum menjamin perubahan sikap FTSE maupun MSCI dalam waktu dekat.

Sementara itu, MSCI diperkirakan baru menyampaikan evaluasi lanjutan atas tuntutan reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026.

Ketidakpastian hasil evaluasi tersebut dinilai masih berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar.

Besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global juga tercermin dari dana pasif yang mereka kelola.

Berdasarkan riset CGSI, aset kelolaan (passive assets under management/AUM) yang melacak indeks MSCI mencapai sekitar USD5 miliar atau setara Rp89,98 triliun dengan asumsi kurs Rp17.995 per USD.

Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang memiliki passive AUM sekitar USD1,5 miliar-USD2 miliar atau setara Rp26,99 triliun-Rp35,99 triliun.

Sementara itu, passive AUM yang mengikuti indeks S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) diperkirakan sekitar USD450 juta atau sekitar Rp8,10 triliun.

Lebih lanjut, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin dalam riset 24 Juli 2026 memperkirakan MSCI mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia.

Perubahan tersebut akan mulai berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.

Wilbert memperkirakan tidak ada saham baru yang masuk maupun naik kelas ke indeks MSCI Standard karena kebijakan freeze masih berlaku.

Dengan demikian, peninjauan kali ini diperkirakan hanya berfokus pada penyesuaian komposisi indeks.

Selain itu, MSCI juga memperkenalkan metodologi baru berupa Extreme Price Increase (EPI) Screen. Aturan tersebut merupakan respons atas dugaan praktik perdagangan terkoordinasi pada sejumlah saham kapitalisasi kecil di Turki.

Namun, menurut Wilbert, dampak kebijakan baru tersebut terhadap pasar Indonesia dalam waktu dekat masih terbatas karena penambahan saham dan promosi ke indeks standar masih dibekukan. Aturan EPI baru akan memiliki dampak signifikan apabila kebijakan freeze dicabut.

Mirae Asset menambahkan, apabila kebijakan freeze berakhir, sebanyak 43 saham yang saat ini menjadi konstituen MSCI Indonesia Small Cap akan kembali dievaluasi.

Saham yang mengalami kenaikan harga sangat tinggi hingga kapitalisasi pasarnya melampaui 1,8 kali ambang batas indeks standar, serta memiliki free float-adjusted market capitalization di atas separuh ambang tersebut, akan dikeluarkan dari indeks Small Cap.

Selanjutnya, saham-saham tersebut akan dievaluasi untuk berpeluang masuk ke indeks MSCI Standard pada peninjauan berikutnya, bukan lagi otomatis tetap berada di indeks Small Cap sebagaimana mekanisme sebelumnya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE