MARKET NEWS

Tambang Pani Masuk Fase Produksi, MDKA Bidik Lonjakan Kontribusi Emas di 2026

Desi Angriani 05/04/2026 17:07 WIB

MDKA memproyeksikan kontribusi segmen emas pada 2026 meningkat signifikan terhadap produksi dan arus kas grup.

Tambang Pani Masuk Fase Produksi, MDKA Bidik Lonjakan Kontribusi Emas di 2026 (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memproyeksikan kontribusi segmen emas pada 2026 meningkat signifikan terhadap produksi dan arus kas grup.

Presiden Direktur MDKA Albert Saputro mengatakan, optimisme ini seiring dengan kemajuan pengembangan tambang emas baru yang mulai memasuki fase produksi.

Tambang Emas Pani mencatat produksi emas perdana pada 14 Februari 2026, disusul penjualan emas pertama kepada Aneka Tambang (ANTM) pada 16 Maret 2026. 

"Dengan kemajuan signifikan di seluruh proyek kami dan kontribusi yang semakin kuat dari entitas anak usaha, kami optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan," katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu (5/4/2026) 

Adapun EMAS menargetkan produksi emas dari Tambang Pani sebesar 100.000 hingga 115.000 ounces. Di sisi lain, produksi berkelanjutan dari Tambang Emas Tujuh Bukit diproyeksikan berada di kisaran 80.000-90.000 ounces.

Selain memperkuat bisnis emas, MDKA juga melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi di segmen nikel. Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh entitas afiliasi disebut berada di jalur yang tepat untuk mencapai kapasitas produksi penuh.

Sementara itu, proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) milik PT Sulawesi Nickel Cobalt dengan kapasitas terpasang 90.000 ton nikel per tahun dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) ditargetkan mulai melakukan commissioning lini produksi pertama pada pertengahan 2026.

Di lini bisnis nikel, entitas anak Merdeka Battery Materials (MBMA) menargetkan peningkatan produksi bijih saprolit menjadi 8-10 juta wet metric ton (wmt) dan bijih limonit sebesar 20-25 juta wmt pada 2026.

Perseroan juga memperkirakan adanya efisiensi biaya seiring peningkatan pasokan bijih saprolit hingga mencapai tingkat swasembada 100 persen untuk memasok tiga fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) pada tahun ini

Sebagai informasi, MDKA mencatatkan kerugian USD62,06 juta atau setara Rp1,06 triliun (kurs Rp17.000 per USD) pada 2025.

Kerugian tersebut membengkak 11,29 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya USD55,76 juta.

Secara operasional, segmen nikel tetap menjadi kontributor utama dengan penerimaan sebesar USD1,43 miliar yang bersumber dari PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

Perseroan mencatat produksi saprolit mencapai 7 juta wet metric tonnes (wmt) dan limonit sekitar 14,7 juta wmt di tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) sepanjang 2025.

Dari segmen emas, Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan 103.156 ounces emas dengan penjualan USD327 juta. Sementara itu, segmen tembaga yang berasal dari Tambang Tembaga Wetar mencatatkan produksi 10.454 ton.

(DESI ANGRIANI)

SHARE