Tehcno9 (NINE) Pastikan Ekspansi Tambang di Mongolia Tak Bebani Keuangan, Ini Alasannya
PGGR dan pihak-pihak terafiliasinya dalam Poh Group termasuk NINE akan terus mendorong kerja sama pertambangan lintas negara.
IDXChannel - PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) terus mematangkan strategi guna menopang upaya perusahaan dalam memaksimalkan ekspansi ke sektor tambang.
Salah satunya dengan segera mengintegrasikan aset tambang di Mongolia, yang dimiliki oleh pemegang saham mayoritas NINE, Poh Group, melalui salah satu entitas bisnisnya, yaitu Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR).
Proses integrasi sedianya dilakukan melalui mekanisme Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD), atau rights issue.
Yang menarik, pihak PGGR sejauh ini dilaporkan telah menjalin kerja sama pertambangan dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia.
EPC+F tersebut berencana melakukan investasi sebesar lebih dari USD100 juta untuk mengimplementasikan operasional pertambangan proyek-proyek Poh Group atau NINE dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan diproyeksikan lebih dari 20 juta ton.
"Dengan telah adanya kemitraan strategis (PGGR dan EPC+F) ini, maka Poh Group dan NINE tidak akan menanggung belanja modal (capex), baik untuk tambang milik sendiri maupun kerja sama operasi dengan Poh Group dan NINE," ujar Direktur Utama NINE, Nuzwan Gufron, dalam keterangan resminya, Jumat (9/1/2026).
Menurut Nuzwan, calon mitra EPC+F tersebut telah berpengalaman luas dalam eksploitasi pertambangan dan manajemen operasi, termasuk menyelesaikan investigasi khusus atas tambang-tambang di Mongolia, Indonesia, dan negara lainnya.
Entitas tersebut telah berdiri sejak 1998 dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang dan total aset mencapai lebih dari USD500 juta, sehingga dapat dipastikan telah memiliki dasar yang kuat untuk bekerja sama dalam proyek pertambangan lintas negara.
Nuzwan menjelaskan, NINE akan terus melakukan penjajakan dan pengembangan berbagai peluang usaha di Indonesia maupun di kawasan regional guna memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.
Perkembangan ini, dikatakan Nuzwan, juga berpotensi memberikan dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia di masa mendatang, baik melalui skema Kerja Sama Operasi (Joint Operation) maupun kepemilikan langsung.
Aset tambang Mongolia yang akan diintegrasikan ke dalam NINE dimiliki 100 persen oleh Poh Kay Ping, yang saat ini menguasai dua konsesi pertambangan batu bara dan semi-soft coking coal. PGGR dan pihak-pihak terafiliasinya dalam Poh Group termasuk NINE akan terus mendorong kerja sama pertambangan lintas negara.
NINE berencana untuk mendaftarkan rights issue dalam rangka mengintegrasikan aset Mongolia selambat-lambatnya pada kuartal II-2026. Perseroan memastikan langkah akuisisi aset tambang Mongolia ini tidak berdampak terhadap kas perseroan.
"Tidak terdapat biaya untuk mengakuisisi aset tambang Mongolia, aset tersebut akan dimasukkan ke dalam perseroan melalui proses PMHMETD," ujar Nuzwan.
(taufan sukma)