MARKET NEWS

Terpuruk di 2022, Bagaimana Nasib Saham Raksasa Tekno Dunia Tahun Ini?

Maulina Ulfa - Riset 03/01/2023 15:49 WIB

Sepanjang tahun lalu, kinerja saham tekno anjlok, ada yang lebih hingga 60%.

Terpuruk di 2022, Bagaimana Nasib Saham Raksasa Tekno Dunia Tahun Ini? (Ilustrasi)

IDXChannel - Kinerja saham teknologi utama dunia yang jeblok sepanjang tahun lalu diwarnai sejumlah sentimen.

Beberapa saham tekno di Amerika Serikat (AS) seperti Tesla Inc (TSLA), Apple Inc (AAPL), Meta Platforms Inc (META), Netflix Inc (NFLX), Alphabet Inc (GOOGL menjadi penggerak utama Wall Street.

Tak hanya di AS, saham-saham tekno di negara ekonomi terbesar dunia, China, juga menjadi raksasa di market. Beberapa di antaranya adalah Tencent Holdings Limited (TCEHY), Alibaba Group Holding Limited (BABA), JD.com (JD), Baidu Inc (BIDU), Weibo Corp.

Sepanjang 2022, kinerja saham tekno utama dunia ini bisa dikatakan tidak terlalu menggembirakan.

Di AS, Saham teknologi mengalami tahun terburuk mereka. Indeks saham Nasdaq, penentu kinerja saham teknologi, mencatat kinerja tahunan terburuk sejak jatuhnya pasar saham tahun 2008.

Indeks Nasdaq juga mencatatkan kinerja terburuk di antara indeks pasar saham AS lainnya seperti Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500. Kondisi ini disebabkan melonjaknya inflasi mendorong bank sentral AS untuk terus menaikkan suku bunga sepanjang tahun.

Indeks Nasdaq mengakhiri 2022 dengan penurunan paling tajam sebesar 34%, dibandingkan dengan penurunan 20% di S&P 500 dan penurunan 9,4% di Dow Jones.

Kinerja Raksasa Tekno di AS VS China

Saham Tesla jeblok 69,2%, sedangkan Meta nyungsep ke angka 64,45%. Adapun saham Netflix mencapai 50,64%, dan induk Google, Alphabet, anjlok 39,15%. Sementara saham Apple anjlok 28,61%, terendah di antara empat lainnya. (Lihat grafik di bawah ini.)

Saham teknologi berkinerja buruk dalam skenario suku bunga tinggi karena kenaikan suku bunga menggerogoti keuntungan perusahaan teknologi ini.

Bank-bank sentral di seluruh dunia bersama dengan AS telah menaikkan suku bunga untuk melawan lonjakan inflasi. Kondisi ini dimulai saat adanya masalah rantai pasokan terkait pandemi Covid-19 dan krisis energi terkait invasi Rusia ke Ukraina.

Terlebih, untuk perusahaan teknologi seperti Tesla dan Apple, China dianggap sebagai pasar utama dalam hal produksi dan penjualan.

Perekonomian China juga mengalami tekanan tahun ini karena kebijakan zero Covid-19 dan lockdown yang menyebabkan masalah permintaan dan kekhawatiran di sisi penawaran (supply).

Anjloknya saham Tesla menjadi yang terburuk baik secara tahunan, kuartalan, dan bulanan sepanjang tahun kemarin.

Saham produsen mobil listrik ini telah kehilangan 46% dari valuasinya sejak akhir Oktober tahun lalu setelah CEO Elon Musk menyelesaikan akuisisi platform media sosial Twitter senilai USD44 miliar.

Elon Musk melego sejumlah besar kepemilikannya di Tesla untuk mendanai pengambilalihan Twitter yang menyebabkan turunnya kepercayaan investor. Musk terakhir menjual saham Tesla senilai USD3,6 miliar pada Desember lalu.

Saham Tesla juga anjlok di tengah kekhawatiran kondisi di China. Pembuat mobil listrik ini menghentikan operasi di pabrik Shanghai, yang merupakan pabrik terbesarnya, pada bulan Desember yang menyebabkan anjloknya harga saham.

Meta juga menghadapi penurunan tajam sepanjang tahun lalu. Pada 2022, Meta menghadapi risiko yang timbul dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global, persaingan dari TikTok, perubahan privasi dari Apple, dan kekhawatiran atas pengeluaran besar-besaran di metaverse.

Pada November, Meta mengatakan akan memangkas lebih dari 11.000 pekerjanya, atau 13% dari total tenaga kerjanya, di tengah pasar periklanan yang runtuh dan inflasi yang tinggi.

Saham Meta terpantau merosot secara konsisten sejak Oktober setelah perusahaan media sosial ini memperkirakan pendapatan kuartalan yang lemah dan lebih banyak biaya pada 2023.

Saham platform video streaming Netflix turun 51% pada tahun 2022, kinerja tahunan terburuk sejak 2004.

Saham media terguncang tahun ini, dengan perusahaan kehilangan nilai pasar miliaran dolar, karena pertumbuhan pelanggan streaming berkurang dan pasar iklan memburuk.

Netflix melaporkan kehilangan pelanggan berbayarnya untuk kuartal hingga Juni. Kondisi ini menjadi yang pertama kali dalam lebih dari 10 tahun.

Saham Apple turun 26,8% pada 2022, kinerja tahunan terburuk sejak 2008. Saham Alphabet juga turun 39% pada 2022, mencatat kinerja tahunan terburuk sejak 2008 karena penurunan revenue.

Lebih kalem dari pesaingnya di AS, kinerja saham-saham tekno di China tak separah Tesla dkk.

Sejak pecahnya pandemi pada 2020, China telah mengadopsi kebijakan nol-Covid yang berupaya melakukan lockdown ketat. Tetapi kebijakan itu telah membebani ekonomi dan merugikan bisnis.

Raksasa tekno seperti Tencent dan Alibaba membukukan tingkat pertumbuhan pendapatan paling lambat pada tahun 2022.

Saham Alibaba group tercatat turun 26,2%, sementara Tencent turun 23,84%. Adapun JD.com dan Baidu Inc turun masing-masing 16,64% dan 19,64%. Weibo Corp turun paling dalam sebesar 39,89% di antara empat lainnya. (Lihat grafik di bawah ini.)

Para analis secara luas melihat pertumbuhan sektor teknologi China yang diramalkan akan berakselerasi pada tahun 2023. Proyeksi ini didukung karena pembukaan China setelah lockdown panjang.

Namun, secara pertumbuhan kemungkinan tidak akan sama dengan sebelumnya di mana pendapatan triwulanan diproyeksikan akan melonjak dari sebelumnya 30% menjadi 40%.

Alibaba diperkirakan akan melihat lonjakan pendapatan 2% secara year on year (YoY) pada kuartal keempat tahun ini. Sebelum meningkat menjadi lebih dari 6% pada kuartal hingga Maret 2023 dan 12% pada kuartal Juni, berdasarkan kajian Refinitiv.

Tencent, sementara itu, diperkirakan akan membukukan pertumbuhan pendapatan yoy hanya 0,5% pada kuartal Desember diikuti oleh 7% pada kuartal pertama 2023 dan 10,5% pada kuartal kedua.

“Kami positif pada prospek sektor internet 2023 sehubungan dengan pembukaan kembali China dan meningkatnya sentimen konsumen,” kata analis di bank investasi Jefferies dalam catatan penelitian bulan lalu mengutip CNBC Internasional, Selasa (3/1/23).

Analis di bank investasi tersebut juga memperkirakan pertumbuhan industri periklanan online akan pulih pada tahun 2023. Namun, mereka juga memperingatkan pertumbuhan akan sangat bergantung pada lingkungan makro. (ADF)

SHARE