MARKET NEWS

Tersengat Kenaikan Harga Minyak, Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah ke Rp16.958 

Anggie Ariesta 13/03/2026 17:35 WIB

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 65 poin atau sekitar 0,38 persen ke Rp16.958 per USD pada akhir perdagangan Jumat (13/3/2026).

Tersengat Kenaikan Harga Minyak, Rupiah Akhir Pekan Ditutup Melemah ke Rp16.958 (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 65 poin atau sekitar 0,38 persen ke Rp16.958 per USD pada akhir perdagangan Jumat (13/3/2026).

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah masih didorong oleh sentimen kenaikan harga minyak imbas penutupan Selat Hormuz.

Jalur air sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia yang menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

“Para pelaku pasar dan analis khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi. Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir kali berada di sekitar USD100 per barel,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (13/3/2026).

Bank sentral seperti Federal Reserve (The Fed), mungkin mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar.

Selain konflik Iran, investor juga memantau data inflasi AS minggu ini. Di mana angka indeks harga konsumen pada Rabu menunjukkan inflasi sebagian besar tetap stabil pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya. 

Namun, angka tersebut tidak mencerminkan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak karena kampanye AS-Israel di Iran.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi untuk Januari, yang akan dirilis akhir pekan ini, diharapkan memberikan lebih banyak petunjuk tentang inflasi AS. 

Dari sentimen domestik, pasar terus menyoroti beban pembayaran bunga utang yang membatasi ruang manuver pemerintah untuk mendorong ekonomi melalui akselerasi belanja negara. 

Estimasi berdasarkan skema defisit anggaran dikurangi keseimbangan primer, realisasi pembayaran bunga utang telah menembus angka Rp99,8 triliun pada Februari 2026.  
Jumlah ini setara 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun atau 28,8 persen jika dibandingkan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun pada bulan lalu.

Risiko pembengkakan beban bunga utang semakin besar menyusul kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah serta tensi panas geopolitik global yang berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara alias SBN.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.850-Rp17.150 per USD pada pekan depan.

(DESI ANGRIANI)

SHARE