MARKET NEWS

Tertekan Sentimen Timur Tengah, Rupiah Melemah Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS

Anggie Ariesta 16/03/2026 14:53 WIB

Mata uang Garuda terpantau melampaui level psikologis baru dengan menembus angka Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi siang.

Tertekan Sentimen Timur Tengah, Rupiah Melemah Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan dalam perdagangan di pasar spot hari ini. Mata uang Garuda terpantau melampaui level psikologis baru dengan menembus angka Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi siang.

Mengacu pada data Bloomberg, Senin (16/3/2026) pukul 14.34 WIB, rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,25 persen ke posisi Rp17 ribu. 

Pergerakan ini melanjutkan tren negatif dari penutupan Jumat (13/3/2026) yang berada di level Rp16.958 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan faktor utama yang memicu tekanan terhadap rupiah adalah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, terkait penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dunia.

Penutupan jalur vital yang dilalui 20 persen pasokan migas global ini dianggap sebagai gangguan suplai paling signifikan dalam sejarah pasar energi. Kondisi ini memicu kekhawatiran global akan datangnya gelombang inflasi baru.

“Para pelaku pasar dan analis khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi,” ujar Ibrahim dikutip Senin (16/3/2026).

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah hingga penutupan perdagangan hari ini masih akan diwarnai volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah.

Estimasi rentang pergerakan rupiah hari ini diantaranya untuk support Rp16.960 dan resisten di Rp17.020.

Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap waspada (wait and see) sembari memantau perkembangan lebih lanjut di Timur Tengah yang berpotensi terus menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

(NIA DEVIYANA)

SHARE