MARKET NEWS

The Fed Beri Sinyal Akhiri Siklus Pengetatan Moneter, Dolar Melemah

Maulina Ulfa - Riset 27/07/2023 17:06 WIB

Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC Juli, Rabu (26/7/2023

The Fed Beri Sinyal Akhiri Siklus Pengetatan Moneter, Dolar Melemah. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC Juli, Rabu (26/7/2023).

The Fed juga diproyeksikan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya dua sampai tiga kali hingga akhir 2023.

Hal itu disampaikan Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira usai The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,25-5,5%.

"Ya jadi ancaman kenaikan (suku bunga) The Fed ini berarti masih ada ruang mereka akan menaikkan lagi misalnya dua sampai tiga kali lagi di akhir 2023 atau pada semester II nanti," jelasnya kepada MNC Portal Indonesia, Kamis (27/7/2023).

Menurut Bhima, kenaikan suku bunga The Fed ini menjadi indikasi, inflasi di negara maju masih akan cukup tinggi.

Namun, The Fed memberikan sinyal akan menghentikan kenaikan suku bunga di sisa 2023.

Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan pada Rabu dalam konferensi pers bahwa bank sentral mungkin akan menyesuakian kenaikan suku bunga mendatang dengan yang lain pada pertemuan yang dijadwalkan pada September.

"Sangat mungkin kita akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September jika data diperlukan, dan saya juga akan mengatakan bahwa mungkin kita akan memilih untuk tetap stabil pada pertemuan itu jika data berbicara”, kata Powell.

Dia mencatat, The Fed akan membuat keputusan tentang kebijakan moneter berdasarkan pertemuan demi pertemuan.

Powell mengatakan berbagai data akan dipertimbangkan oleh bank sentral tersebut saat membahas kebijakan moneter.

Dampak dari pernyataan Powell ini, dolar jatuh pada perdagangan Kamis (27/7/2023). Indeks dolar turun 0,29 persen pada level 100,345 per pukul 16.16 WIB.

Sementara fokus pasar juga bergeser pada pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) hari ini.

Kenaikan suku bunga The Fed sebesar seperempat persentase poin pada Rabu  menandai kenaikan suku bunga ke-11 bank sentral dalam 12 pertemuan terakhirnya.

Imbasnya, dolar Australia dan Selandia Baru yang sensitif terhadap risiko greenback naik pada hari ini.

Tersengat sentimen siklus pengetatan moneter global yang bisa saja segera berakhir, dolar Selandia Baru dan Australia menghijau masing-masing 0,77 persen dan 0,75 persen pada pukul 16.22 WIB. (Lihat tabel di bawah ini.)

 

"Tentu saja, Fed tidak menutup pintu untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut, tetapi tampaknya di sesi Asia, spekulasi beredar kuat bahwa ini bisa menjadi kenaikan terakhir untuk The Fed," kata Moh Siong Sim, ahli strategi mata uang di Bank of Singapore.

Sejumlah mata uang mengalami penguatan setelah melemahnya dolar. Pound Inggris naik 0,39 persen. Euro juga menguat 0,49 persen.

"(AS) lebih dekat ke akhir siklus kenaikan dibandingkan rekan-rekannya. Poros dovish dari The Fed kemungkinan akan memberikan tekanan pada dolar AS dalam jangka menengah," kata Emin Hajiyev, ekonom senior di Insight Investment.

ECB kini yang menjadi sorotan berikutnya dengan investor mengharapkan bank sentral menaikkan suku bunga yang sama sebesar 25 bps.

"ECB tampaknya pasti akan menaikkan suku bunga deposito sebesar 25 bps. Ini seharusnya tidak mengejutkan pasar. Perdebatan sebenarnya adalah apakah ECB akan menaikkan suku bunga lagi pada bulan September atau tidak,” kata Nadia Gharbi, ekonom senior di Pictet Wealth Management.

Adapun untuk mata uang Asia, yen Jepang masih bawah tekanan dengan penurunan 0,17 persen hari ini.

Bank of Japan (BOJ) mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada esok Jumat (28/7/2023) dan terlihat tetap mempertahankan sikap kebijakan suku bunga ultra longgar.

Sementara yuan juga masih mengalami tekanan terhadap dolar AS dengan penurunan 0,07 persen pada hari ini. (ADF)

SHARE