MARKET NEWS

The Fed Diproyeksi Kerek Bunga 25 Bps, Rupiah Jadi Penentu Langkah BI

TIM RISET IDX CHANNEL 15/09/2026 10:48 WIB

Arah kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan lebih banyak ditentukan oleh pergerakan rupiah.

The Fed Diproyeksi Kerek Bunga 25 Bps, Rupiah Jadi Penentu Langkah BI. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kini semakin kuat, membuat arah kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan lebih banyak ditentukan oleh pergerakan rupiah.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.

Dalam riset bertajuk “Fed Hike Priced In, Rupiah Now the Swing Factor for BI” pada 14 September 2026, Rully menyebut probabilitas kenaikan 25 bps berdasarkan CME FedWatch melonjak menjadi 87,3 persen pada penutupan Jumat (11/9/2026) pekan lalu, dari 72,4 persen sebelum rilis data inflasi inti Amerika Serikat (AS) pada Agustus.

Inflasi inti AS tercatat naik 0,3 persen secara bulanan atau 2,4 persen secara tahunan, sedikit di atas konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 0,2 persen secara bulanan. Data tersebut menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Pasar kini memasuki periode blackout menjelang keputusan FOMC sehingga probabilitas tersebut diperkirakan relatif stabil hingga keputusan diumumkan.

Meski demikian, Rully melihat pasar mulai membuka kemungkinan bahwa suku bunga terminal The Fed dapat berada di atas proyeksi saat ini.

Kontrak Fed Funds futures Oktober 2027 menunjukkan kisaran 450-475 bps menjadi skenario dengan probabilitas tertinggi, yakni 29,7 persen. Angka tersebut mengindikasikan pasar mulai condong ke level terminal rate di atas proyeksi Mirae Asset sebesar 4,25 persen.

Rully mempertahankan proyeksi terminal rate The Fed di level 4,25 persen. Menurut dia, The Fed masih akan mengambil kebijakan berbasis data dan memutuskan arah suku bunga dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, sementara anggota komite juga masih terbelah.

Di sisi lain, dampak kebijakan The Fed terhadap BI tidak serta-merta berarti BI harus menaikkan suku bunga. Pergerakan rupiah justru menjadi faktor utama yang menentukan respons bank sentral domestik.

Rully menjelaskan BI memiliki hierarki instrumen yang jelas dalam menjaga stabilitas rupiah. Intervensi valuta asing dan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi lini pertahanan pertama karena dapat dilakukan dengan cepat dan bersifat lebih mudah dibalik alias reversible. Kenaikan suku bunga menjadi pilihan terakhir.

Pola tersebut terlihat sepanjang tahun ini. BI mempertahankan suku bunga pada Januari-April, kemudian menaikkan suku bunga sebesar total 100 bps pada Mei-Juni ketika instrumen lini pertama dinilai belum cukup untuk meredam tekanan.

Setelah itu, BI kembali menahan suku bunga pada Juli-September seiring pengurangan penerbitan SRBI.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Rully menilai tekanan tersebut berasal dari dua sisi, yakni melonjaknya impor minyak dan gas akibat kenaikan harga minyak serta pertumbuhan impor nonmigas yang terdorong oleh target pertumbuhan ekonomi yang agresif.

Kondisi tersebut membuat CAD melebar hingga 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara pembiayaannya masih bergantung pada aliran dana jangka pendek yang rentan berbalik arah.

Dorongan pertumbuhan juga memberikan tekanan terhadap likuiditas domestik karena pertumbuhan kredit bergerak lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

“Selama rupiah bertahan di kisaran Rp17.500-Rp17.700 per USD, BI kemungkinan masih bertahan pada lini pertahanan pertama. Namun, jika rupiah kembali bergerak menuju Rp18.000, tekanan untuk menaikkan suku bunga akan meningkat,” tulis Rully.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Mirae Asset melihat masih terdapat ruang bagi BI untuk melakukan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada tahun ini, sehingga suku bunga acuan berpotensi mencapai 6,00 persen. (Aldo Fernando)

SHARE