The Fed Makin Hawkish, Ruang Gerak Kebijakan Indonesia Mulai Diuji
Perubahan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) mulai menguji ruang gerak kebijakan moneter Indonesia.
IDXChannel - Perubahan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) mulai menguji ruang gerak kebijakan moneter Indonesia.
Sinyal hawkish dari Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh membuat ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS kembali berubah, dengan rupiah dan pasar surat utang domestik menjadi jalur transmisi utama.
Dalam riset yang terbit pada 31 Agustus 2026, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai pesan Warsh dalam simposium Jackson Hole lebih hawkish dari perkiraan, meski belum secara eksplisit mengisyaratkan kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September.
Ekspektasi kenaikan suku bunga AS sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4 persen melonjak. Probabilitasnya meningkat dari 35,4 persen menjadi 57,5 persen setelah pidato Warsh.
Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,72 persen. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di bawah level 100.
Menurut Rully, persoalan yang kini menjadi perhatian pasar bukan lagi sekadar apakah The Fed akan menaikkan suku bunga, melainkan seberapa tinggi suku bunga terminal yang diperlukan.
Hal ini sejalan dengan perubahan cara pasar membaca fungsi reaksi The Fed di bawah kepemimpinan Warsh. Perekonomian AS masih dinilai cukup tangguh, ditopang konsumsi dan investasi bisnis yang solid. Di sisi lain, kondisi keuangan dinilai belum cukup ketat.
Dengan kondisi tersebut, ruang untuk pengetatan kebijakan masih terbuka apabila proses penurunan inflasi berjalan terlalu lambat. Pasar saat ini memperkirakan suku bunga terminal The Fed berada di kisaran 4,25-4,50 persen.
Rupiah Jadi Jalur Transmisi Pertama
Bagi Indonesia, tekanan perubahan ekspektasi kebijakan The Fed kemungkinan pertama kali terasa melalui nilai tukar rupiah.
Rully mencatat penguatan rupiah dari sekitar Rp18.000 per USD menjadi Rp17.800-Rp17.900 per USD sejak awal Agustus beriringan dengan turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan.
Namun, dengan kembali menguatnya ekspektasi pengetatan moneter AS, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih memiliki sejumlah instrumen untuk meredam tekanan tersebut.
Intervensi di pasar valuta asing (valas) dan penyesuaian kembali strategi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai akan menjadi lini pertahanan pertama.
Dalam skenario dasar, Rully masih menilai BI-Rate sebesar 5,75 persen sudah memadai. Namun, level 6 persen tetap menjadi kemungkinan apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung lebih lama dan semakin persisten.
SBN Hadapi Ujian dari Likuiditas Domestik
Tekanan tidak hanya berpotensi terasa di pasar valas. Pasar surat berharga negara (SBN) juga menghadapi tantangan, meski sejauh ini relatif mampu bertahan.
Ketahanan SBN antara lain ditopang oleh realokasi likuiditas perbankan dari SRBI. Kondisi tersebut menciptakan permintaan domestik yang membantu menjaga pasar obligasi pemerintah.
Namun, penyangga tersebut berpotensi melemah apabila BI kembali membuat SRBI lebih menarik atau perbankan mempercepat pertumbuhan kredit.
Jika likuiditas perbankan semakin terserap ke SRBI maupun kredit, SBN harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik permintaan baru.
Alternatif lainnya, BI dapat meningkatkan pembelian SBN di pasar sekunder untuk meredam volatilitas yang berlebihan.
Dengan demikian, risiko terhadap pasar SBN Indonesia kini tidak lagi semata-mata berasal dari kebijakan The Fed.
Persaingan likuiditas domestik antara SRBI, SBN, dan pertumbuhan kredit menjadi faktor yang semakin penting dalam menentukan arah yield obligasi pemerintah.
Kondisi tersebut membuat perubahan kebijakan The Fed menjadi ujian bagi fleksibilitas BI.
Jika tekanan eksternal semakin kuat, ruang untuk mempertahankan suku bunga tetap rendah akan semakin bergantung pada kemampuan BI menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengelola likuiditas domestik. (Aldo Fernando)