MARKET NEWS

Timur Tengah Terus Bergejolak, Rupiah Ditutup Terkoreksi ke Rp17.917 per Dolar AS

Anggie Ariesta 05/10/2026 15:27 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Senin (5/10/2026) ke level Rp17.917.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Senin (5/10/2026) ke level Rp17.917. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Senin (5/10/2026). Mata uang Garuda turun 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.917 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi pada hari Minggu menyatakan akan meluncurkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang dikuasai oleh kelompok tersebut.

"Sebelumnya, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, sebagai tanggapan atas serangan yang dipimpin Arab Saudi di Yaman," kata Ibrahim dalam risetnya.

Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran mengenai produksi di negara pengekspor utama kawasan tersebut. Mereka mengklaim serangan tersebut menyebabkan kebakaran hebat dan merupakan tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir.

Perpolitikan di AS memanas, setelah Presiden AS Donald Trump memanfaatkan rapat umum di Ohio pada hari Sabtu untuk melontarkan serangan kasar terhadap Partai Demokrat, menjanjikan bantuan keuangan jika Partai Republik memenangkan pemilihan paruh waktu, serta memperingatkan bahwa ia akan enggan bekerja sama dengan negara bagian tersebut jika Partai Demokrat yang menang.

Pada pekan ini, agenda ekonomi AS akan mencakup data ISM Services PMI, Data ketenagakerjaan mingguan, rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, serta data sentimen konsumen dari University of Michigan.

Dari sentimen dalam negeri, sejak konflik Timur Tengah bergejolak, Indonesia telah kehilangan 25 persen sumber pasokan impor bahan bakar. Dengan begitu, pemerintah harus mencari sumber minyak dari negara lain guna untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman.

Seiring hal tersebut, pemerintah kini melakukan hunting atau pencarian langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok BBM untuk menjaga ketahanan pasokan nasional. Mekanisme pengadaan BBM yang sebelumnya dilakukan melalui lelang kini menghadapi kendala karena minimnya peserta.

Oleh karena itu, pemerintah bersama Pertamina mencari sumber pasokan alternatif secara langsung ke negara-negara yang masih memiliki kelebihan stok. Strategi tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh BBM dengan harga yang berpotensi lebih tinggi dibandingkan mekanisme pengadaan normal.

Namun, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan stok BBM nasional tetap tersedia di tengah ketidakpastian pasokan global.

Ada dua prioritas pemerintah dalam menghadapi kondisi tersebut. Pertama, menjaga harga BBM subsidi, khususnya solar dan bensin, agar tetap tidak mengalami kenaikan. Kedua, Pemerintah tetap menjaga ketahanan stok BBM nasional pada level 18–20 hari.

Dengan demikian, apabila terjadi antrean di sejumlah wilayah, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya persoalan ketahanan stok nasional. Antrean BBM dapat terjadi akibat kendala distribusi di lapangan.

Salah satu faktor adalah kondisi El Nino yang dapat mengganggu jalur distribusi BBM, terutama pengiriman melalui Sungai, kondisi sungai yang mengering dapat memaksa pengiriman BBM dialihkan menggunakan truk.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.910-Rp17.960 per dolar AS. Sedangkan untuk sepekan ini, dia memprediksi rupiah bergerak di rentang Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE