Transformasi TBS Energi (TOBA) Dinilai Mulai Terealisasi, Tercermin pada Bauran Pendapatan
Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai tercermin dalam perubahan bauran pendapatan perseroan.
IDXChannel - Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai tercermin dalam perubahan bauran pendapatan perseroan, menandakan diversifikasi yang tak lagi sebatas narasi.
Dalam riset Energy Shift Institute (ESI), kontribusi bisnis non-batu bara TBS tercatat menjadi salah satu yang tertinggi di antara perusahaan yang dianalisis.
Kondisi tersebut menempatkan TBS pada tahap revenue mix dalam kerangka penilaian diversifikasi yang digunakan ESI.
Dalam laporan Indonesia’s Coal Sector: Outlook, Risks, and Mitigation Strategies edisi Agustus 2026, ESI menggunakan kerangka tujuh tahapan untuk mengukur kemajuan diversifikasi perusahaan batu bara, mulai dari narasi, target, alokasi modal, pembangunan operasional, perubahan revenue mix, dampak terhadap margin, hingga penurunan risiko bisnis.
Dalam kerangka tersebut, TBS telah mencapai tahap revenue mix. Artinya, kontribusi bisnis di luar batu bara mulai terlihat dalam struktur pendapatan perseroan, setelah sebelumnya melalui tahapan perencanaan dan pembangunan bisnis baru.
ESI menilai diversifikasi perusahaan batu bara Indonesia secara umum masih banyak berada pada tahap narasi.
Sementara itu, pemetaan terhadap TBS menunjukkan bahwa proses tersebut telah memasuki tahap yang lebih lanjut, dengan bisnis non-batu bara mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan.
Dalam pemetaan hubungan antara porsi pendapatan non-batu bara dan operating profit margin (OPM) pada kuartal I-2026, TBS tercatat memiliki porsi pendapatan non-coal lebih dari 60 persen.
Data tersebut menunjukkan perubahan komposisi pendapatan perseroan dibandingkan dengan ketergantungan yang lebih besar pada bisnis batu bara.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menilai perubahan tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan proses diversifikasi.
“Yang menarik dari TBS adalah transformasinya mulai terlihat di revenue mix. Artinya, perusahaan sudah bergerak dari tahap membangun narasi dan aset baru menuju fase di mana bisnis non-coal mulai memberikan kontribusi yang semakin nyata terhadap pendapatan,” ujar Abdul Azis.
Arah diversifikasi TBS mencakup tiga lini yang dipetakan ESI, yakni energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah.
Ketiga lini tersebut berkaitan dengan sektor transisi energi dan ekonomi rendah karbon. Dengan demikian, perubahan revenue mix TBS juga mencerminkan bertambahnya kontribusi bisnis di luar batu bara dalam portofolio perseroan.
Meski porsi pendapatan non-batu bara telah meningkat, perubahan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh profitabilitas. Dalam pemetaan ESI, TBS masih berada dalam kelompok high diversification–low operating margin, dengan OPM berada di kisaran negatif.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kontribusi bisnis non-batu bara masih perlu diikuti dengan peningkatan skala usaha dan kemampuan menghasilkan margin.
Menurut Abdul Azis, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan bisnis-bisnis baru tersebut menghasilkan kinerja keuangan yang lebih baik.
“Setelah revenue mix berubah, tahap berikutnya adalah monetisasi. Investor akan melihat apakah energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah mampu meningkatkan skala, memperbaiki margin, dan pada akhirnya memberikan kontribusi laba yang lebih besar,” katanya.
ESI menempatkan margin impact dan risk reduction sebagai dua tahapan lanjutan setelah perubahan bauran pendapatan.
Dengan demikian, peningkatan kontribusi bisnis non-batu bara belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa risiko bisnis TBS telah berkurang atau profitabilitas telah membaik.
Dalam laporannya, ESI menilai tantangan industri batu bara Indonesia semakin bersifat struktural, selain tetap menghadapi faktor siklikal.
Risiko tersebut antara lain berasal dari konsentrasi pasar ekspor, dominasi cadangan batu bara berkalori rendah, perubahan daya saing harga, perubahan permintaan dari negara tujuan ekspor utama, serta perkembangan energi terbarukan.
Dalam konteks tersebut, diversifikasi menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan perusahaan batu bara untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis inti.
ESI menilai perusahaan perlu mengombinasikan strategi defensif dengan menjaga arus kas dari bisnis batu bara dan strategi ofensif melalui pengembangan sumber pendapatan di luar batu bara.
“Kalau kontribusi non-coal terus meningkat dan mulai diikuti perbaikan margin, transformasi TBS akan semakin lengkap. Pada titik itu, diversifikasi tidak hanya terlihat dari perubahan revenue mix, tetapi juga dari kualitas laba dan kemampuan perusahaan mengurangi risiko bisnis batu bara,” ujar Abdul Azis. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.