Ubah Klasifikasi Usaha, PJHB Siap Tambah Lima Armada Kapal
Perseroan menargetkan penambahan 3 unit kapal pada 2026 dan 2 unit kapal pada 2028.
IDXChannel - PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) berencana mengubah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) perseroan dengan menambahkan aktivitas perusahaan induk/holding companies, serta angkutan laut dalam negeri untuk barang umum.
Penyesuaian ini dilakukan agar kegiatan usaha utama PJHB sebagai perusahaan pelayaran yang melayani angkutan barang dalam negeri dapat tercermin secara lebih tepat dalam klasifikasi usaha.
Sejalan dengan rencana ekspansi, PJHB juga menyiapkan penambahan armada kapal secara bertahap. Perseroan menargetkan penambahan 3 unit kapal pada 2026 dan 2 unit kapal pada 2028, sehingga total armada meningkat dari 5 unit menjadi 10 unit kapal.
Penambahan armada tersebut untuk memenuhi meningkatnya permintaan jasa charter kapal, terutama dari sektor energi dan industri serta meningkatkan kapasitas operasional, fleksibilitas layanan, dan potensi pendapatan perseroan.
"Perlu ditegaskan bahwa rencana penambahan armada tersebut bukan merupakan dampak langsung dari perubahan KBLI, melainkan bagian dari strategi Perseroan untuk memperkuat kapasitas operasional dan memperluas layanan charter atas kegiatan usaha yang telah berjalan," ujar manajemen PJHB dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (8/7/2026).
Untuk mendukung ekspansi tersebut, perseroan menyiapkan investasi sebesar Rp163,03 miliar pada 2026 dan Rp96,10 miliar pada 2028 yang mencakup kebutuhan pembangunan kapal hingga siap beroperasi.
Dari sisi sumber daya manusia, PJHB menyatakan telah memiliki struktur organisasi dan tenaga kerja yang memadai, yang didominasi awak kapal (ABK) berpengalaman. Namun, seiring bertambahnya armada, perseroan juga akan menambah ABK bersertifikasi serta memperkuat fungsi pengawasan operasional, keselamatan pelayaran, dan kepatuhan regulasi.
Berdasarkan proyeksi manajemen untuk periode 2026-2030, pendapatan perseroan diperkirakan meningkat dari Rp63,49 miliar pada 2026 menjadi Rp137,20 miliar pada 2030, sejalan dengan kenaikan kapasitas dan utilisasi armada.
(DESI ANGRIANI)