MARKET NEWS

Usai Sepakat Caplok Bayan (BYAN), Gurita Bisnis Haji Isam Makin Melebar

TIM RISET IDX CHANNEL 20/09/2026 09:09 WIB

Kesepakatan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membuka babak baru ekspansi bisnis Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Usai Sepakat Caplok Bayan (BYAN), Gurita Bisnis Haji Isam Makin Melebar. (Foto: Jhonlinmagz)

IDXChannel - Kesepakatan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membuka babak baru ekspansi bisnis Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Dari batu bara, bisnis Haji Isam kini membentang ke sawit, biodiesel, infrastruktur tambang, mineral hingga industri makanan.

Melalui kendaraan investasinya, PT Jhonlin Baratama, Haji Isam telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) dengan pemegang saham pengendali BYAN, taipan Low Tuck Kwong dan sang putri Elaine Low.

Berdasarkan keterbukaan informasi BYAN pada Kamis (17/9/2026), perjanjian yang ditandatangani pada 16 September tersebut mencakup pengalihan 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30 persen dari saham beredar. Penyelesaian transaksi masih menunggu pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.

Kabar tersebut langsung membuat riuh pasar saham. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), saham BYAN ditutup melonjak 19,96 persen ke Rp13.825 per unit atau menyentuh auto rejection atas (ARA). Dalam sepekan, saham BYAN telah menguat 11,94 persen.

Efeknya turut terasa pada sejumlah emiten yang terafiliasi dengan Grup Jhonlin.

Saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) naik 5,85 persen menjadi Rp2.080 per unit, sementara PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) masing-masing terkoreksi 5,22 persen dan 14,08 persen akibat aksi ambil untung.

Meski terkoreksi pada Jumat, ketiga saham tersebut masih mencatat kenaikan dalam sebulan terakhir. TEBE menguat 51,27 persen, PGUN 24,51 persen, sedangkan JARR melesat 79,10 persen.

Pergerakan tersebut tidak terlepas dari rumor akuisisi BYAN yang beredar sejak pertengahan Agustus 2026.

Saat itu, pasar ramai memperbincangkan kabar bahwa Haji Isam akan mengambil alih sekitar 62,2 persen saham BYAN dengan nilai transaksi yang disebut mencapai USD5,5 miliar.

Rumor tersebut sempat dibantah. Pada 18 Agustus, manajemen BYAN menyatakan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan sekitar 62,2 persen saham oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi dengannya.

Kini, rumor tersebut mendapat titik terang meski struktur transaksi yang diumumkan berbeda dari kabar awal.

Jhonlin Baratama akan mengambil sekitar 30 persen saham BYAN dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low, dengan penyelesaian transaksi masih bergantung pada sejumlah persyaratan.

Gurita Bisnis Jhonlin

Jika transaksi tersebut rampung, masuknya Haji Isam ke BYAN akan memperkuat pijakannya di industri batu bara. Namun, bisnis Jhonlin sejatinya telah jauh berkembang dari sekadar pertambangan.

Fondasi bisnis grup ini berasal dari Jhonlin Baratama yang bergerak sebagai kontraktor pertambangan batu bara. Dari bisnis tersebut, grup kemudian membangun ekosistem usaha yang mencakup pelayaran dan logistik, perkebunan sawit, biodiesel, alat berat, infrastruktur tambang hingga mineral.

Di pasar modal, jejak bisnis tersebut tercermin melalui sejumlah emiten yang terafiliasi dengan keluarga Haji Isam.

Salah satunya adalah PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), yang bergerak di sektor perkebunan sawit dan biodiesel. Ada pula PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), yang memiliki bisnis infrastruktur pertambangan, mulai dari jalan angkut, stockpile, terminal batu bara hingga jasa kepelabuhanan.

Sementara itu, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) juga menjadi bagian dari ekosistem bisnis agribisnis yang terafiliasi dengan keluarga Haji Isam.

Meski harga saham sejumlah emiten tersebut melonjak di tengah rumor dan realisasi kesepakatan BYAN, kinerja keuangannya pada semester I-2026 menunjukkan hasil yang beragam.

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas tertanggal 18 Agustus 2026, laba bersih TEBE pada semester I-2026 mencapai sekitar Rp20 miliar, turun 26,2 persen dibandingkan Rp27,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

PGUN membukukan laba bersih Rp44 miliar, merosot 47 persen secara tahunan dari Rp83 miliar. Sementara itu, laba bersih JARR relatif stabil di Rp159 miliar, turun tipis 1,2 persen dari Rp161 miliar pada semester I-2025.

Ekspansi keluarga Haji Isam juga telah merambah ke sektor mineral. Pada Mei 2026, keluarga Haji Isam melalui entitas terkait mengakuisisi sekitar 21,11 persen saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), emiten yang bergerak di sektor nikel, dengan nilai transaksi sekitar Rp936,65 miliar.

Langkah tersebut menambah eksposur grup terhadap komoditas di luar batu bara, di tengah semakin luasnya portofolio bisnis keluarga Haji Isam di sektor sumber daya alam.

Merambah Bisnis KFC

Gurita bisnis Haji Isam tidak berhenti pada komoditas dan infrastruktur pertambangan. Keluarga tersebut juga telah masuk ke bisnis makanan melalui PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI), distributor utama KFC di Indonesia.

Melalui PT Shankara Fortuna Nusantara, keluarga Haji Isam mengakuisisi 15 persen saham JAI senilai Rp54,4 miliar. Shankara Fortuna Nusantara merupakan perusahaan milik Liana Saputri, putri Haji Isam, bersama suaminya, Putra Rizky Bustaman.

Transaksi tersebut turut mengubah struktur kepemilikan JAI. Porsi PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang waralaba KFC di Indonesia yang terafiliasi dengan keluarga Gelael dan Salim, berkurang dari 70 persen menjadi 55 persen.

JAI sendiri tengah mengembangkan proyek peternakan ayam terintegrasi di Banyuwangi, Jawa Timur, di atas lahan seluas 8,6 juta meter persegi.

Aksi tersebut sempat ikut menggerakkan saham FAST. Pada 4 Juli 2025, saham FAST melonjak hingga ARA 25 persen ke Rp346 per saham setelah pengumuman masuknya Shankara Fortuna Nusantara sebagai pemegang saham JAI.

Dari Kontraktor Tambang hingga Pemilik Gurita Bisnis

Ekspansi tersebut berawal dari bisnis batu bara yang dibangun Haji Isam sejak awal 2000-an.

Lahir di Batulicin, Kalimantan Selatan, pada 1 Januari 1977, Haji Isam mengawali perjalanan bisnisnya sebagai sopir truk pengangkut kayu. Setelah sekitar tiga tahun bekerja, ia mulai mengenal sejumlah pelaku usaha kayu dan pertambangan di Kalimantan Selatan.

Mengutip buku Menilik Hubungan Erat Pengusaha Batu Bara, Haji Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam dengan Pesohor terbitan TEMPO Publishing pada 2019, salah satu sosok yang berpengaruh dalam perjalanan bisnis Haji Isam adalah Johan Maulana, seorang penambang batu bara lokal.

Pada 2001, Haji Isam mulai masuk ke bisnis pertambangan sebagai kontraktor. Dengan dukungan modal dari Johan, ia menyewa alat berat dan mendirikan perusahaan yang kemudian berkembang menjadi Jhonlin Baratama.

Bisnis tersebut berkembang dari kapasitas penambangan sekitar 5.000 ton batu bara per bulan hingga memiliki alat berat sendiri dan menangani proyek-proyek pertambangan berskala lebih besar.

Pada 2003, Jhonlin mulai menambang di lahan PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Ekspansi kemudian berlanjut ke sejumlah wilayah dan proyek pertambangan lainnya.

Dari bisnis tambang, Jhonlin memperluas sayap ke sektor pelayaran melalui Jhonlin Marine yang mengoperasikan kapal tongkang pengangkut batu bara. Grup tersebut juga masuk ke bisnis properti serta transportasi udara melalui Jhonlin Air Transport.

Ekspansi ke sektor alat berat kembali terlihat pada Juni 2024. Jhonlin Group menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan alat berat asal China, SANY Group, untuk pengadaan 2.000 unit ekskavator guna mendukung proyek pertanian yang digarap grup.

Jika transaksi BYAN nantinya selesai, langkah tersebut akan menambah satu aset besar lagi ke dalam gurita bisnis Haji Isam sekaligus memperkuat keterlibatannya di industri batu bara nasional. (Aldo Fernando)

SHARE