MARKET NEWS

Valuasi Saham Bank Dinilai Menarik, Pasar Menanti Katalis

TIM RISET IDX CHANNEL 05/08/2026 06:35 WIB

Saham-saham perbankan Indonesia dinilai sudah berada di level valuasi yang menarik setelah terkoreksi cukup dalam.

Valuasi Saham Bank Dinilai Menarik, Pasar Menanti Katalis. (Foto: Magnific)

IDXChannelSaham-saham perbankan Indonesia dinilai sudah berada di level valuasi yang menarik setelah terkoreksi cukup dalam.

Namun, tekanan likuiditas yang belum mereda membuat ruang penguatan sektor ini masih terbatas dalam jangka pendek.

Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, dalam riset yang diterbitkan pada 30 Juli 2026 menilai sektor perbankan memang telah mencerminkan berbagai risiko, mulai dari perlambatan pertumbuhan kredit, penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), hingga meningkatnya porsi kredit kepada pihak berelasi.

Meski demikian, pasar dinilai belum sepenuhnya memperhitungkan potensi penurunan kualitas aset yang dapat muncul akibat ketatnya likuiditas.

Menurut Indo Premier, tekanan likuiditas diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat karena belum ada kepastian kapan pemerintah akan menarik kembali Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang ditempatkan di perbankan.

Saat ini, rasio loan to deposit ratio (LDR) tiga bank BUMN besar diperkirakan berada di kisaran 96-97 persen jika tidak memperhitungkan dana SAL.

Di sisi lain, tenor penempatan SAL yang relatif pendek, yakni kurang dari enam bulan, membuat bank sulit mengoptimalkan penyaluran dana tersebut ke aset produktif sehingga berpotensi menekan pendapatan bunga.

Sebagai gambaran, Kementerian Keuangan sempat menempatkan dana SAL sebesar Rp200 triliun pada September 2025, disusul Rp100 triliun pada Maret 2026.

Saat dana tersebut mulai ditarik pada Juni 2026, suku bunga pasar uang antarbank overnight (INDONIA) melonjak menjadi rata-rata 5,9 persen dari rata-rata 4,1 persen pada Januari-Mei 2026, bahkan sempat menyentuh 6,6 persen.

Namun, pada Juli 2026 pemerintah kembali menempatkan dana SAL dengan nilai yang lebih besar, yakni mencapai total Rp400 triliun.

Selain itu, Indo Premier juga menyoroti lonjakan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dinilai semakin menekan biaya dana (cost of fund) perbankan sekaligus membatasi pertumbuhan kredit.

Nilai outstanding SRBI meningkat menjadi sekitar Rp1.100 triliun pada Juli 2026, melonjak dari Rp350 triliun pada Januari 2024 dan Rp731 triliun pada akhir 2025.

Sementara itu, imbal hasil SRBI mencapai sekitar 7,64 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata biaya dana empat bank terbesar yang hanya sekitar 2,5 persen maupun suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 5,75 persen.

Menurut analis, tingginya imbal hasil SRBI menjadikannya sebagai acuan baru di pasar sehingga mendorong kenaikan imbal hasil tenor pendek, meningkatkan biaya dana perbankan, sekaligus mengurangi insentif bank untuk menyalurkan kredit karena penempatan dana di SRBI menjadi lebih menarik.

Di sisi lain, porsi kredit kepada pihak berelasi juga terus meningkat. Pada 2023, kredit jenis ini hanya sekitar 12,7 persen dari total kredit, kemudian naik menjadi 18,5 persen pada akhir 2025 dan mencapai 19,1 persen pada kuartal I-2026.

Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi penyaluran kredit sekitar Rp240 triliun kepada Agrinas untuk program Koperasi Desa (Kopdes) dengan bunga sekitar 6 persen yang dijamin oleh APBN.

Indo Premier juga mencatat kredit pihak berelasi yang baru dibukukan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada kuartal II-2026 tetap menggunakan bunga sekitar 5 persen, meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin.

Kondisi tersebut dinilai dapat menggerus kinerja laba perbankan karena bunga kredit yang lebih rendah, biaya kredit yang lebih tinggi, serta peluang cross-selling yang lebih terbatas.

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, valuasi sektor perbankan dinilai sudah sangat murah.

Saat ini, sektor diperdagangkan pada price to book value (PBV) sekitar 1,5 kali dan price to earnings ratio (PER) sekitar 8,1 kali untuk proyeksi 2026, jauh di bawah rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 2,2 kali dan 14,3 kali.

Kepemilikan investor asing juga telah turun ke level terendah dalam delapan tahun, yakni sekitar 48 persen, dibandingkan puncaknya sebesar 63 persen pada Maret 2024.

Meski demikian, Indo Premier menilai belum ada katalis yang cukup kuat untuk mendorong rerating saham-saham perbankan.

“Valuasi dan posisi pasar sudah cukup mendukung, tetapi sektor ini masih kekurangan katalis untuk mendorong rerating,” tulis analis Indo Premier.

 Bahkan, tekanan likuiditas yang berlanjut dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), berisiko semakin menekan margin dan kualitas aset.

Dalam kondisi tersebut, Indo Premier tetap memilih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebagai saham unggulan karena memiliki posisi likuiditas yang lebih kuat, pendekatan yang lebih konservatif terhadap kualitas aset, serta kepemilikan asing yang relatif lebih ringan dibandingkan emiten perbankan lainnya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE