MARKET NEWS

Valuasi Saham Mulai Menarik, IHSG Diproyeksi Capai 8.000 pada Akhir 2026

TIM RISET IDX CHANNEL 22/06/2026 09:54 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai memiliki peluang untuk kembali menguat hingga mencapai level 8.000 pada akhir 2026.

Valuasi Saham Mulai Menarik, IHSG Diproyeksi Capai 8.000 pada Akhir 2026. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai memiliki peluang untuk kembali menguat hingga mencapai level 8.000 pada akhir 2026.

Riset analis DBS William Simadiputra yang terbit pada 17 Juni 2026 menyebutkan, penurunan valuasi saham belakangan ini telah menciptakan peluang risiko dan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor.

Target IHSG tersebut mencerminkan berbagai tantangan yang masih membayangi pasar, mulai dari pelemahan rupiah, ketidakpastian regulasi, hingga risiko geopolitik.

Dengan target 8.000, valuasi IHSG diperkirakan berada pada 12,6 kali price to earnings (P/E) tahun buku 2026, atau sekitar satu standar deviasi di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 15 kali.

Menurut William, kekhawatiran pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi atau resesi sebagian besar telah tercermin dalam valuasi saham saat ini.

Bahkan, ia menilai sentimen negatif investor cenderung terlalu pesimistis jika dibandingkan dengan kondisi fundamental laba perusahaan yang masih cukup solid.

“Reset valuasi menciptakan profil risiko dan imbal hasil yang lebih menarik,” tulis William dalam risetnya.

DBS menilai stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi katalis utama bagi pergerakan pasar saham ke depan. Rupiah masih menjadi faktor penting yang menentukan sentimen investor terhadap aset Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah sebelumnya muncul akibat kekhawatiran atas penyempitan surplus perdagangan, kenaikan harga minyak, serta penerapan skema ekspor baru. Kondisi tersebut turut membebani pasar saham domestik.

Namun, DBS melihat peluang perbaikan seiring dengan potensi penurunan harga minyak, meredanya ketegangan geopolitik, serta dukungan kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia (BI). Penguatan rupiah yang signifikan dinilai dapat mendorong pemulihan valuasi saham.

Selain nilai tukar, musim laporan keuangan kuartal II-2026 akan menjadi ujian berikutnya bagi pasar.

Dengan valuasi yang saat ini sudah memperhitungkan skenario pelemahan ekonomi yang cukup berat, kinerja emiten pada periode tersebut akan menjadi penentu arah IHSG.

DBS hanya memangkas tipis proyeksi pertumbuhan laba bersih perusahaan di 2026 menjadi 7,5 persen secara tahunan dari sebelumnya 7,8 persen. Revisi tersebut mencerminkan fundamental korporasi yang masih relatif kuat meski menghadapi tekanan makroekonomi.

William menyebut sektor perbankan, sejumlah saham konsumer, serta produsen komoditas masih menunjukkan ketahanan kinerja.

Dengan tingkat valuasi saat ini, risiko penurunan dinilai lebih terbatas, sementara kejutan positif dari laporan keuangan berpotensi mendorong kenaikan valuasi pasar.

Dalam strategi investasi, DBS tetap mengutamakan saham dengan visibilitas laba yang kuat, neraca keuangan sehat, dan model bisnis defensif.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi pilihan utama di sektor perbankan karena memiliki likuiditas kuat, pertumbuhan kredit yang konservatif, serta kualitas aset yang unggul.

Selain BBCA, DBS juga menyukai PT Astra International Tbk (ASII) karena menawarkan eksposur bisnis yang terdiversifikasi serta perbaikan alokasi modal. Pilihan saham lainnya mencakup PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE