MARKET NEWS

Wall Street Berakhir Anjlok Tajam setelah The Fed Tahan Suku Bunga

Dhera Arizona Pratiwi 30/07/2026 06:46 WIB

Wall Street ditutup anjlok tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026), waktu setempat, setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga.

Wall Street Berakhir Anjlok Tajam setelah The Fed Tahan Suku Bunga. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Wall Street ditutup anjlok tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026), waktu setempat, setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50-3,75 persen.

Saham-saham chip terkait AI semakin mengalami penurunan menjelang laporan keuangan kuartalan dari Microsoft dan Meta Platforms. Bahkan, indeks Nasdaq 100 mencatat penurunan 11 persen dari rekor tertinggi Juni 2026.

Dilansir dari Reuters, Kamis (30/7/2026), indeks S&P 500 turun 1,52 persen dan mengakhiri sesi di 7.316,15. Kemudian, Nasdaq melemah 1,74 persen menjadi 24.442,94, dan Dow Jones Industrial Average merosot 2,19 persen ke level 51.594,14.

Indeks acuan S&P 500 mencapai level terendah dalam kurun waktu sebulan, sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun sekitar 9 persen dari rekor tertinggi Juni.

Indeks Nasdaq 100 turun 2,1 persen, imbas investor melepas saham-saham terkait AI karena kekhawatiran yang terus berlanjut terkait besarnya pengeluaran modal. Indeks tersebut terdiri dari perusahaan-perusahaan non-keuangan paling berharga di bursa Nasdaq.

Saham Meta Platforms turun 4 persen, setelah perusahaan media sosial tersebut mengatakan mereka sekarang memproyeksikan pengeluaran modal 2026 antara USD130 miliar dan USD145 miliar, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar USD125 miliar hingga USD145 miliar.

Kemudian, saham Microsoft naik 0,6 persen setelah rilis pendapatan kuartalan yang mengalami kenaikan, dan menandakan pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur AI membuahkan hasil.

Sementara itu, persaingan dari China semakin memanas, baik dalam perlombaan untuk mengembangkan chip canggih maupun karena perusahaan-perusahaan China meluncurkan model AI yang lebih murah.

Sebagai informasi, bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen. Namun, keputusan ini menuai perbedaan pendapat dari tiga dari 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang lebih menyukai menaikkan suku bunga 25 basis poin.

Meski demikian, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi kembali ke target 2 persen yang telah berada di atas target bank sentral selama lebih dari lima tahun.

“The Fed mempertahankan suku bunga tetap, seperti yang diharapkan. Namun, pertanyaan yang lebih besar sekarang adalah, seberapa besar tekanan yang akan mereka miliki untuk menaikkan suku bunga pada bulan September? Inflasi sedang tinggi dan dengan melonjaknya harga minyak mentah, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya memang akan terjadi pada bulan September,” kata Kepala Strategi Pasar Carson Group, Ryan Detrick.

Investor khawatir perusahaan-perusahaan besar AS memperdalam jaringan investasi terkait AI dan terus menyalurkan anggaran miliaran dolarnya ke teknologi yang sedang berkembang ini dengan mengorbankan arus kas bebas.

(Dhera Arizona)

SHARE