MARKET NEWS

Wall Street Berakhir Melemah, Indeks S&P 500 hingga Dow Jones Kompak Turun

Kunthi Fahmar Sandy 08/10/2026 06:45 WIB

Wall Street mengakhiri tren kenaikan selama empat sesi berturut-turut pada hari Rabu

Wall Street Berakhir Melemah, Indeks S&P 500 hingga Dow Jones Kompak Turun (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street mengakhiri tren kenaikan selama empat sesi berturut-turut pada hari Rabu. Namun indeks-indeks utama berhasil pulih dari level terendah hariannya seiring meredanya kenaikan harga minyak dan berkurangnya tekanan jual pada obligasi AS setelah lelang obligasi Treasury tenor 10 tahun yang sukses. 

Sehari sebelumnya, saham-saham AS sempat ditutup pada rekor tertinggi untuk pertama kalinya sejak pertengahan Agustus.

Di samping itu, pelaku pasar juga mencermati risalah rapat kebijakan moneter Federal Reserve bulan September, yang menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan memperkirakan adanya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini.

Dilansir dari laman Investing, Indeks acuan S&P 500 turun 0,3 persen dan ditutup pada level 7.798,14 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,2 persen ke posisi 27.538,69 poin, dan indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average turun 0,7 persen menjadi 51.179,22 poin. 

Sebelumnya, ketiga indeks tersebut sempat mencatat penurunan masing-masing sebesar 0,7 persen, 0,9 persen, dan 1,2 persen.

Wall Street tetap tangguh di tengah gejolak hebat pasar obligasi

Berita utama dalam beberapa minggu terakhir adalah anjloknya harga obligasi pemerintah AS (Treasuries) yang dampaknya merembet ke pasar obligasi utama lainnya.

Aksi jual obligasi ini dipicu oleh kekhawatiran akan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak, kecemasan terkait besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), ekspektasi kebijakan bank sentral yang lebih ketat (hawkish), serta masalah fiskal yang kian pelik di negara-negara seperti Prancis.

Setelah sempat stabil pada hari sebelumnya, imbal hasil (yield) obligasi Treasury kembali naik pada hari Rabu. Namun, lelang obligasi Treasury tenor 10 tahun senilai USD39 miliar yang berlangsung kemudian mencatatkan imbal hasil tertinggi untuk lelang serupa sejak November 2000. Hasil lelang tersebut menunjukkan tingginya permintaan terhadap surat utang pemerintah dan turut meredam kenaikan imbal hasil.

Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 1,8 basis poin menjadi 5,286 persen, setelah sempat melonjak hingga 9,5 basis poin pada awal hari. Imbal hasil tenor 30 tahun naik 2,5 basis poin menjadi 5,666 persen.

Saham-saham AS menunjukkan ketahanan yang mengesankan di tengah gejolak pasar pendapatan tetap (fixed-income); indeks S&P 500 hanya mencatat penurunan 0,5 persen sepanjang bulan September dan membukukan kenaikan selama empat sesi berturut-turut di awal Oktober. Tren positif ini membawa indeks acuan tersebut ke level rekor pada hari Selasa kali pertama sejak 13 Agustus dan akhirnya ditutup di atas level 7.800 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Wall Street mendapat keuntungan dari pemulihan minat pasar terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI), ekspektasi kinerja laba perusahaan AS yang kuat pada kuartal ketiga, serta berkurangnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat menyusul data inflasi yang positif dan laporan nonfarm payrolls yang lemah.

"Tidak dapat dimungkiri bahwa pasar menunjukkan performa yang sangat kuat belakangan ini, dengan beberapa indeks mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Menurut saya, optimisme ini terutama didorong oleh ekspektasi pertumbuhan laba yang kuat untuk kuartal ketiga dan seterusnya. Kita seharusnya mulai melihat hal ini pada pekan depan," ujar Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel, kepada Investing.com. 

Musim pelaporan laba perusahaan akan dimulai pekan depan dengan rilis laporan dari bank-bank besar AS seperti JPMorgan dan Bank of America.

"Saya juga berpendapat bahwa sudah muncul cukup banyak sinyal ekonomi yang agak lemah, sehingga banyak pihak meyakini kita tidak akan melihat kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun ini. Tentu saja, hal yang menjadi perhatian saya adalah tren kenaikan suku bunga jangka panjang yang terus berlanjut," katanya.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE