MARKET NEWS

Wall Street Berakhir Menguat usai Data Inflasi AS Sesuai Ekspektasi

Kunthi Fahmar Sandy 13/08/2026 06:44 WIB

Wall Street atau Bursa saham AS sebagian besar ditutup menguat pada hari Rabu, setelah data inflasi konsumen bulan Juli tercatat sesuai ekspektasi

Wall Street Berakhir Menguat usai Data Inflasi AS Sesuai Ekspektasi (FOTO:Dok Laman Investing)

IDXChannel - Wall Street atau Bursa saham AS sebagian besar ditutup menguat pada hari Rabu, setelah data inflasi konsumen bulan Juli tercatat sesuai ekspektasi, sehingga mendorong para pedagang untuk menurunkan perkiraan kenaikan suku bunga Federal Reserve. 

Sementara itu, harga minyak bergerak fluktuatif setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz, di saat Iran menegaskan kembali kendalinya atas jalur perairan vital tersebut.

Dilansir dari laman Investing Kamis (13/8/2026), indeks acuan S&P 500 naik 0,3 persen dan ditutup pada level 7.749,19 poin, sedangkan indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,5 persen dan berakhir di posisi 26.588,49 poin. Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average berakhir sedikit di bawah level datar pada angka 53.770,16 poin.

Pada hari Rabu, perhatian tertuju sepenuhnya pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Juli. Data ini dirilis setelah laporan ketenagakerjaan bulan Juli yang lebih lemah dari perkiraan sehingga memicu penyesuaian cepat terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed untuk bulan September.

Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI umum naik tipis 0,1 persen secara bulanan (M/M) pada bulan Juli, setelah turun 0,4 persen pada bulan Juni, namun melandai secara tahunan (Y/Y) menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen. CPI inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,2 persen secara bulanan setelah tidak mencatat perubahan pada bulan Juni, serta melambat secara tahunan menjadi 2,5 persen dari 2,6 persen. Keempat indikator tersebut sesuai dengan perkiraan.

Setelah data CPI, angka Indeks Harga Produsen (PPI) bulan Juli akan dirilis pada hari Kamis. Meskipun kedua indikator tersebut banyak dipantau, The Fed lebih memilih untuk memantau indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) guna mengukur inflasi. Komponen-komponen dari CPI dan PPI turut menjadi bahan perhitungan bagi PCE.

Bagi Federal Open Market Committee (FOMC), angka-angka sesuai perkiraan ini kemungkinan memberikan ruang lebih luas untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil, terutama setelah laporan ketenagakerjaan yang lemah pada hari Jumat. 

Bahkan, alat CME FedWatch menunjukkan peluang FOMC mempertahankan suku bunga tetap pada bulan September meningkat menjadi 62 persen setelah laporan CPI dirilis, naik dari sebelumnya 54 persen.

"Menurut pendapat saya, data hari ini membuat kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini menjadi lebih kecil. Angka inflasi inti sebesar 2,5 persen bergerak perlahan ke arah yang tepat. Ada lebih banyak alasan untuk meyakini bahwa angka inflasi non-inti akan turun di masa mendatang berkat penyelesaian masalah dengan Iran yang menurunkan harga minyak. 

Data ketenagakerjaan pekan lalu menunjukkan kelemahan yang lebih besar daripada perkiraan banyak pihak," ujar Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel, kepada Investing.com.

"Kecuali ada perubahan signifikan dalam satu atau dua bulan ke depan, saya menduga suku bunga pada akhir tahun nanti akan sangat mirip dengan tingkat suku bunga saat ini," tambahnya.

Meskipun laporan bulan Juli sesuai perkiraan, inflasi konsumen kemungkinan akan kembali naik pada bulan Agustus setelah harga minyak global melonjak lebih dari 20 persen bulan lalu.

"Angka CPI terbaru mungkin terlihat tidak mengkhawatirkan, namun data real-time Truflation kami menunjukkan bahwa inflasi akan terus bertahan—dengan pergerakan yang fluktuatif, sulit turun (sticky), dan berada pada tingkat tinggi yang mengkhawatirkan sepanjang paruh kedua tahun ini. Data resmi cenderung meremehkan tekanan pada harga pangan dan biaya perumahan, namun pembacaan real-time Truflation terhadap harga supermarket dan biaya tempat tinggal sudah mengisyaratkan gelombang inflasi berikutnya pada kebutuhan pokok sehari-hari," kata Oliver Rust, kepala data di Truflation.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE