Wall Street Dibuka Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Keputusan The Fed
Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (29/7/2026) waktu setempat.
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Lonjakan harga minyak akibat kembali memanasnya perang AS-Iran menekan Wall Street yang juga tengah bersiap menghadapi keputusan The Federal Reserve (The Fed) soal suku bunga.
Dikutip dari AP, indeks S&P 500 melemah 0,7 persen. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 760 poin atau 1,4 persen, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1 persen pada perdagangan pagi waktu AS.
Harga minyak Brent melonjak 6 persen menjadi USD87,01 per barel setelah kembali pecahnya konflik dalam perang Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global.
Iran meluncurkan serangan rudal ke sejumlah pasukan AS di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, militer AS bersama Arab Saudi melakukan serangan terhadap kelompok milisi di Irak yang didukung Teheran.
Harga minyak Brent sebelumnya bergerak volatil, sempat turun hingga USD72 per barel pada awal bulan ini sebelum kembali melonjak hingga USD102 per barel pada pekan lalu. Pergerakan tersebut dipicu ketidakpastian mengenai kesepakatan antara AS dan Iran yang memungkinkan kapal tanker minyak kembali melintas secara bebas dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat, setelah sebelumnya mulai melandai lebih cepat dari perkiraan ekonom. Kondisi tersebut membuat investor menanti keputusan The Fed setelah rapat kebijakan moneter selama dua hari berakhir.
Pelaku pasar memperkirakan terdapat peluang sekitar 36 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuannya. Jika terjadi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama dalam tiga tahun terakhir. Suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan inflasi, tetapi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan harga aset berisiko.
Tekanan juga terjadi pada saham teknologi, terutama perusahaan yang menjadi pendorong utama tren investasi AI. Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan valuasi tinggi saham AI apabila teknologi tersebut tidak mampu menghasilkan keuntungan dan peningkatan produktivitas sesuai ekspektasi.
Pasar saham Korea Selatan menjadi salah satu yang terdampak karena didominasi perusahaan teknologi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Indeks Kospi anjlok 6 persen setelah sebelumnya turun 10,8 persen, meski masih mencatat kenaikan 34,4 persen sepanjang tahun berjalan.
Saham SK Hynix turun 9,6 persen meski perusahaan mencatatkan pendapatan dan laba kuartalan tertinggi berkat tingginya permintaan chip terkait AI. Namun, pertumbuhan pendapatan sebesar 257 persen belum mampu memenuhi ekspektasi analis.
Di Wall Street, saham Nvidia menjadi pemberat utama indeks S&P 500 setelah turun 2,6 persen. Saham pesaingnya, Advanced Micro Devices, terkoreksi 4,4 persen, sedangkan Micron Technology melemah 3,7 persen.
Saham KLA Corp juga turun 8 persen meski membukukan laba dan pendapatan kuartalan di atas perkiraan. Investor menilai ekspektasi terhadap saham tersebut sudah terlalu tinggi setelah harga sahamnya melonjak hampir 150 persen dalam enam bulan pertama tahun ini.
Sementara itu, saham Apple naik 0,3 persen dan menjadi salah satu penahan pelemahan pasar. Sejumlah analis menilai Apple menjadi pilihan alternatif di sektor teknologi karena belanja AI perusahaan tersebut lebih terbatas dibandingkan pesaingnya.
Pergerakan bursa global berlangsung beragam. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 2 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang turun 1,5 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Treasury AS meningkat seiring kenaikan harga minyak. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,63 persen dari sebelumnya 4,61 persen pada perdagangan Selasa. Kenaikan yield tersebut turut mendorong suku bunga kredit perumahan jangka panjang AS ke level tertinggi dalam hampir satu tahun.
(Rahmat Fiansyah)