MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Melemah, Investor Menanti Rilis Data Inflasi

Nia Deviyana 10/08/2026 22:23 WIB

Data inflasi konsumen dan produsen yang akan dirilis pekan ini akan memberikan petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Wall Street Dibuka Melemah, Investor Menanti Rilis Data Inflasi. Foto: AP.

IDXChannel - Indeks-indeks utama Wall Street bergerak melemah pada Senin (10/8/2026), setelah S&P 500 dan Dow mencatat rekor tertinggi pekan lalu. Investor mencermati perkembangan di Timur Tengah sembari menanti data inflasi dan laporan keuangan perusahaan.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 72,88 poin atau 0,13 persen menjadi 53.964,05. S&P 500 turun 5,22 poin atau 0,07 persen menjadi 7.752,42, sedangkan Nasdaq Composite turun 61,56 poin atau 0,23 persen menjadi 26.629,06.

Dari geopolitik, Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman terkait penetapan jalur pelayaran baru di antara kedua negara. Namun, Iran kembali menegaskan Amerika Serikat (AS) harus memenuhi sejumlah persyaratan sebelum jalur perairan strategis tersebut dibuka kembali.

Data inflasi konsumen dan produsen yang akan dirilis pekan ini akan memberikan petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama karena Ketua The Fed Kevin Warsh cenderung memberikan panduan kebijakan ke depan yang terbatas.

“Narasi yang berlaku adalah inflasi masih tinggi, tetapi tidak terlalu jauh dari target The Fed sebesar 2 persen,” kata Chief Investment Officer Edwards Asset Management Bob Edwards.

Data CPI yang jinak, serta kemungkinan tidak adanya kenaikan suku bunga pada September akan memberikan jalan bagi pasar untuk bergerak lebih cepat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 44 persen.

Di pasar saham, enam dari 11 sektor S&P 500 bergerak melemah. Sektor real estate dan consumer staples menjadi pemberat terbesar.

Indeks teknologi informasi S&P 500 turun 0,4 persen. Saham Apple merosot 2,4 persen setelah Jefferies menurunkan rekomendasinya terhadap saham tersebut. Sementara itu, Intel anjlok 4,8 persen setelah meluncurkan penawaran saham senilai USD15 miliar.

Sebaliknya, indeks energi S&P 500 melonjak 2,6 persen, mengikuti kenaikan harga minyak sebesar 2 persen.

Kalender laporan keuangan perusahaan mulai lebih sepi pekan ini. Perusahaan semikonduktor Applied Materials dan produsen peralatan jaringan Cisco menjadi beberapa perusahaan yang dijadwalkan melaporkan kinerja.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack juga dijadwalkan menyampaikan pernyataan pada hari ini.

Secara terpisah, Senat AS pada Sabtu meloloskan rancangan undang-undang sementara untuk mendanai lembaga-lembaga federal hingga 11 Desember. Langkah tersebut mencegah terjadinya shutdown pemerintahan yang berpotensi melumpuhkan aktivitas pemerintah hanya beberapa pekan sebelum pemilihan paruh waktu pada November.

(NIA DEVIYANA)

SHARE