MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Menguat di Tengah Kenaikan Tipis Harga Minyak

Kunthi Fahmar Sandy 03/09/2026 21:41 WIB

Saham-saham AS menguat pada pembukaan perdagangan hari Kamis, di tengah kenaikan tipis harga minyak dan pemulihan dari aksi jual obligasi.

Wall Street Dibuka Menguat di Tengah Kenaikan Tipis Harga Minyak (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Saham-saham AS menguat pada pembukaan perdagangan hari Kamis (4/9/2026), di tengah kenaikan tipis harga minyak dan pemulihan aksi jual obligasi

Sementara itu, para investor mencermati reaksi pasar terhadap laporan laba Broadcom dan Snowflake. Dilansir dari laman Investing Kamis (3/9/2026), pada pukul 09.31 waktu setempat (13.31 GMT), indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average memimpin kenaikan dengan penguatan 0,7 persen ke level 53.438,37 poin, sementara indeks acuan S&P 500 naik 0,5 persen menjadi 7.701,41 poin. 

Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi juga naik 0,5 persen ke posisi 26.335,30 poin. Kenaikan ini terjadi saat harga minyak stabil di dekat level tertinggi baru-baru ini dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) sedikit menurun, dengan yield tenor 10 tahun turun 4,1 basis poin menjadi 4,753 persen.

Investor juga menghadapi berbagai risiko makro yang kompleks—termasuk serangan militer langsung antara AS dan Iran di Teluk Persia, aksi jual berkelanjutan di pasar obligasi pemerintah, serta meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga akhir bulan ini.

Proyeksi Broadcom yang agak lemah meredam sentimen positif dari kinerja yang melampaui ekspektasi.

Menyoroti kondisi yang rentan bagi saham-saham pertumbuhan (growth stocks), raksasa semikonduktor dan cip AI kustom, Broadcom, mencatat penurunan lebih dari 5 persen setelah pembukaan perdagangan.

Sebagai indikator penting dalam rantai pasok yang menopang pusat data hyperscaler berkapitalisasi pasar raksasa dan akselerator AI kustom, laporan kinerja kuartalan Broadcom menjadi tolok ukur industri untuk memantau kesehatan belanja modal AI di sektor korporasi.

Meskipun perusahaan cip ini mencatatkan kinerja pendapatan dan laba kuartal fiskal ketiga yang melampaui ekspektasi, didorong oleh penjualan semikonduktor AI yang melonjak tiga kali lipat menjadi USD16,7 miliar prospek pendapatan kuartal keempat yang sedikit lebih rendah dari perkiraan justru meredam antusiasme pasar.

Sementara itu, saham perusahaan perangkat lunak Snowflake melonjak hampir 25 persen saat pembukaan berkat proyeksi pendapatan tahunan yang kuat dan tanda-tanda bahwa produk AI perusahaan mulai mendapat sambutan positif.

Di sisi lain, Wall Street menghadapi kelelahan pasar menjelang rilis laporan NFP yang krusial. Sesi perdagangan reguler hari Rabu mencatat kenaikan moderat pada indeks-indeks utama 

Wall Street, indeks S&P dan Nasdaq masing-masing naik 0,5 peraen sementara Dow naik 0,6 persen di tengah penurunan tipis imbal hasil Treasury AS dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan stabilnya harga minyak mentah.

Namun, para pelaku pasar menggambarkan kondisi pasar saat ini sebagai situasi yang semakin melelahkan. Secara historis, bulan September merupakan bulan yang paling menantang bagi pasar saham AS, dan investor kesulitan mempertahankan momentum di tengah tekanan faktor makroekonomi yang terus berlanjut.

Serangan militer kembali terjadi antara pasukan AS dan Iran di Selat Hormuz, yang secara efektif menghentikan lalu lintas pelayaran komersial. Hal ini menjaga harga minyak mentah Brent tetap bertahan di kisaran USD91 per barel dan memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi akibat kenaikan biaya (cost-push inflation). 

Sedangkan data swap dan CME FedWatch menunjukkan bahwa pasar uang memperhitungkan probabilitas hampir 68 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed tanggal 16 September. Hal ini didorong oleh peringatan tegas Ketua Kevin Warsh di Jackson Hole bahwa upaya pengendalian inflasi belum tuntas.

Kini, perhatian tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) AS bulan Agustus yang akan dirilis hari Jumat. Para pengelola alokasi dana institusional memandang data ketenagakerjaan tersebut, bersama dengan laporan IHK (CPI) bulan Agustus pekan depan sebagai penentu krusial yang akan menentukan apakah The Fed akan kembali melakukan pengetatan moneter pada akhir bulan ini.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE