Wall Street Dibuka Menguat, Kekhawatiran Pasar terhadap The Fed Memudar
Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026) setelah laporan ketenagakerjaan Juni lebih lemah dari perkiraan.
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026) setelah laporan ketenagakerjaan Juni lebih lemah dari perkiraan. Data terbaru tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Laporan nonfarm payrolls menunjukkan ekonomi AS hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah estimasi ekonom sebesar 110.000. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat 4,2 persen, lebih baik dari perkiraan 4,3 persen.
Kepala Makro Lombard Odier Investment Managers, Florian Ielpo menilai, data itu menjadi skenario terbaik bagi pasar karena menunjukkan pasar tenaga kerja masih sehat tanpa memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi.
"Ini angka yang sangat bagus. Pasar tenaga kerja masih baik, tetapi tidak cukup panas untuk mempercepat inflasi," ujarnya dikutip dari Reuters.
Data tersebut membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan data LSEG, peluang kenaikan suku bunga setidaknya sekali tahun ini turun menjadi 76 persen, dari sekitar 84 persen sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.
Hingga pukul 09.48 waktu New York, indeks Dow Jones menguat 0,86 persen ke 52.752,96, S&P 500 naik 0,67 persen ke 7.533,51, dan Nasdaq Composite bertambah 0,56 persen ke 26.187,02. Sepuluh dari 11 sektor utama di S&P 500 berada di zona hijau, dipimpin sektor material dan consumer staples, sementara indeks semikonduktor Philadelphia relatif datar.
Analis Investasi eToro AS, Bret Kenwell, mengatakan laporan tenaga kerja terbaru membuat The Fed kemungkinan kembali menyeimbangkan fokus antara inflasi dan kondisi pasar kerja.
"Laporan hari ini tidak menunjukkan masalah serius di pasar tenaga kerja, tetapi cukup meredakan narasi bahwa ekonomi terlalu panas," katanya.
Meski demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik setelah pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran belum menghasilkan kemajuan menuju perdamaian. Risiko gangguan di Selat Hormuz juga tetap menjadi perhatian karena dapat kembali mendorong inflasi melalui kenaikan harga energi.
Di sisi lain, investor juga mulai mencari peluang di luar saham-saham kecerdasan buatan (AI) yang telah mencatat reli panjang. "Saat ini kami melihat banyak valuasi menarik di luar sektor AI. Kami menyukai pasar saham yang lebih luas," ujar Kenwell.
Sementara itu, saham Bending Spoons turun 3,9 persen sehari setelah pemilik Vimeo tersebut sempat melonjak 40 persen pada debut perdagangannya di Nasdaq. Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat di NYSE mengungguli saham yang melemah dengan rasio 3,85 banding 1, sedangkan di Nasdaq rasionya mencapai 2,48 banding 1.
(Rahmat Fiansyah)