Wall Street Dibuka Menuju Rekor Tertinggi meski Dibayangi Perang AS-Iran
Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat, menuju rekor kuartalan terbaik dalam enam tahun terakhir.
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat, menuju rekor kuartalan terbaik dalam enam tahun terakhir. Ketahanan pasar saham tetap terjaga meski dibayangi ketegangan geopolitik akibat konflik AS-Iran dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Senior Market Analyst Trade Nation, David Morrison mengatakan, investor masih optimistis terhadap prospek pasar. Menurut dia, setiap pelemahan justru dimanfaatkan sebagai peluang membeli saham.
"Investor belum melihat akhir dari tren bullish ini. Setiap kali terjadi aksi jual, selalu muncul dorongan baru untuk membeli," ujarnya dikutip dari Reuters.
Hingga pukul 10.08 waktu New York, indeks Dow Jones naik tipis 3,72 poin atau 0,01 persen ke level 52.186,46. Sementara S&P 500 menguat 24,96 poin atau 0,34 persen menjadi 7.465,39 dan Nasdaq Composite melonjak 191,73 poin atau 0,76 persen ke 26.011,87.
Secara kuartalan, S&P 500 dan Nasdaq berada di jalur mencatat kenaikan terbesar dalam enam tahun terakhir. Adapun Dow Jones berpotensi membukukan kinerja kuartalan terbaik sejak 2022. Namun, pelemahan saham-saham teknologi membuat S&P 500 dan Nasdaq berisiko mengakhiri tren kenaikan dua bulan berturut-turut sepanjang Juni.
Pelaku pasar kini menantikan musim laporan keuangan emiten yang diyakini dapat menjadi katalis baru bagi pasar, terutama setelah saham semikonduktor dan teknologi mengalami tekanan tajam pekan lalu.
"Saham teknologi memang mengalami periode pelemahan pada Juni, tetapi kondisi itu bisa dengan mudah berbalik saat musim laporan keuangan dimulai," kata Chief Global Market Strategist Invesco, Brian Levitt.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai penguatan pasar pada paruh kedua tahun ini masih bergantung pada perkembangan negosiasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran. Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) hingga akhir 2026, berbanding terbalik dengan ekspektasi penurunan suku bunga pada awal tahun.
Investor juga mencermati data lowongan pekerjaan dan kepercayaan konsumen terbaru di AS, serta menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi ekonomi di Portugal yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa waktu setempat.
Dari sisi sektoral, indeks properti S&P 500 menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,7 persen. Secara keseluruhan, tujuh dari 11 sektor utama di S&P 500 diperdagangkan di zona merah.
Pergerakan saham individual juga bervariasi. Saham Concentrix anjlok 20,7 persen ke level terendah sepanjang sejarah setelah perusahaan memangkas proyeksi pendapatan dan laba tahunan. Sebaliknya, AeroVironment melesat 22 persen setelah membukukan lonjakan pendapatan kuartalan. Sementara saham Morgan Stanley turun 1 persen setelah Oppenheimer menurunkan rekomendasi terhadap sejumlah bank investasi besar di Wall Street.
(Rahmat Fiansyah)