MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Mixed, Yield Treasury dan Konflik Iran Bayangi Pasar

Desi Angriani 02/09/2026 21:38 WIB

Pasar masih dibayangi tekanan dari kenaikan yield obligasi pemerintah dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Wall Street Dibuka Mixed, Yield Treasury dan Konflik Iran Bayangi Pasar (Foto: dok AP)

IDXChannel - Wall Street dibuka mixed cenderung menguat pada perdagangan Rabu (2/9/2026), seiring harga minyak dan imbal hasil (yield) treasury mulai mereda dari lonjakan sebelumnya. 

Namun, pasar masih dibayangi tekanan dari kenaikan yield obligasi pemerintah dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Melansir Investing, indeks S&P 500 naik 0,1 persen ke level 7.637,61. Sementara itu, Nasdaq Composite turun tipis 0,1 persen menjadi 26.082,45, dan Dow Jones Industrial Average menguat 0,5 persen ke posisi 53.022,88.

Tekanan utama di pasar saham global masih berasal dari aksi jual obligasi pemerintah yang mendorong biaya pinjaman acuan ke level tertinggi dalam beberapa tahun hingga beberapa dekade.

Di AS, yield Treasury dua tahun berada di sekitar 4,354 persen, level tertinggi sejak 2025. Sementara yield Treasury 10 tahun naik ke 4,780 persen dan yield 30 tahun mencapai 5,273 persen.

Kenaikan yield Treasury memberikan tekanan langsung terhadap valuasi saham. Model valuasi institusi menggunakan yield Treasury sebagai acuan untuk mendiskontokan arus kas perusahaan di masa depan. Ketika yield meningkat, tingkat diskonto ikut naik sehingga nilai sekarang dari proyeksi laba perusahaan menurun.

Sektor dengan durasi tinggi, khususnya teknologi, perangkat lunak, dan semikonduktor, menjadi kelompok yang paling rentan mengalami penyesuaian valuasi.

Di sisi lain, kenaikan yield obligasi pemerintah membuat aset berpendapatan tetap semakin menarik bagi investor institusi. Dengan imbal hasil surat utang pemerintah yang berada di level tinggi, premi risiko atau tambahan imbal hasil yang diharapkan investor dari saham dibandingkan aset bebas risiko menjadi semakin kecil.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor institusi mengurangi eksposur terhadap saham. Kenaikan yield jangka panjang juga meningkatkan biaya belanja modal serta biaya pembiayaan kembali utang perusahaan. Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan memasuki kuartal IV-2026.

Sentimen pasar turut tertekan setelah AS kembali melancarkan serangan militer terhadap target yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di kawasan Teluk Persia.

Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan akan melakukan serangan yang lebih keras serta mengancam menargetkan fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg jika Teheran kembali melakukan serangan balasan.

Ancaman tersebut membuat harga minyak mentah bertahan di atas USD90 per barel. Lonjakan harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi yang didorong oleh kenaikan biaya produksi atau cost-push inflation dan berpotensi diteruskan kepada konsumen.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter. Kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga energi serta pernyataan hawkish dari pejabat bank sentral membuat pasar semakin agresif memperkirakan pengetatan kebijakan moneter.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat 16 September 2026 mencapai 67,9 persen. Angka tersebut melonjak dari 34,7 persen sepekan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memperingatkan dalam forum Jackson Hole bahwa bank sentral masih memiliki pekerjaan untuk memastikan tekanan harga tetap terkendali.

Pelaku pasar kini menanti serangkaian data ketenagakerjaan AS untuk mengukur apakah kondisi ekonomi mendukung sikap hawkish The Fed.

(DESI ANGRIANI)

SHARE