Wall Street Dibuka Variatif, Indeks S&P 500 Menguat dan Dow Jones Melemah Tipis
Wall Street atau bursa saham AS dibuka dengan perubahan tipis, bangkit dari penurunan sesi sebelumnya karena meredanya tekanan pada harga minyak.
IDXChannel - Wall Street atau bursa saham AS dibuka dengan perubahan tipis pada hari Selasa, bangkit dari penurunan sesi sebelumnya karena meredanya tekanan pada harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi Treasury sehinggq turut memperbaiki sentimen pasar.
Dilansir dari laman Investing Selasa (29/9/2026), pada pukul 09.31 waktu setempat (13.31 GMT), indeks acuan S&P 500 naik 0,1 persen ke level 7.694,21 poin, sementara indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,3 persen menjadi 26.893,86 poin. Di sisi lain, indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,1 persen ke posisi 51.416,96 poin.
Indeks-indeks utama Wall Street melemah pada sesi perdagangan sebelumnya, terutama akibat aksi jual obligasi yang berkepanjangan. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun mencapai level tertinggi baru dalam 19 tahun, sementara imbal hasil tenor 30 tahun melonjak ke tingkat tertinggi sejak 2004.
Perlu dicatat bahwa imbal hasil obligasi cenderung bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.
"Ini kembali menjadi sesi di mana bulan September membuktikan reputasinya sebagai bulan terburuk sepanjang tahun bagi kinerja aset, dengan obligasi dan saham yang terus mengalami tekanan," ujar para analis Deutsche Bank dalam sebuah catatan.
Adapun salah satu faktor pemicu penurunan tersebut adalah keputusan Presiden Donald Trump untuk menolak usulan perdamaian baru dari Iran, padahal usulan yang sebenarnya dapat membuka kembali Selat Hormuz dan sedikit meredakan tekanan di pasar energi.
Akibatnya, harga minyak naik, sehingga memperparah kekhawatiran bahwa guncangan energi yang berkepanjangan dapat mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga berkali-kali tahun ini.
Sementara itu, OpenAI turut memberikan tekanan pada Wall Street setelah muncul laporan bahwa perusahaan rintisan (startup) AI tersebut telah menghentikan pelatihan model baru dan membatalkan rencana peluncuran model baru dalam waktu dekat.
Laporan ini berdampak negatif terhadap saham-saham sektor semikonduktor dan perusahaan yang terkait dengan pusat data, karena pasar khawatir akan perlambatan lebih luas dalam pengembangan AI, yang pada gilirannya dapat menggerus permintaan terhadap cip dan kapasitas komputasi.
Di ranah saham individual, Goldman Sachs (NYSE:GS) menjadi sorotan setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa dewan direksi bank tersebut membahas rencana agar CEO David Solomon mundur dan digantikan oleh pejabat operasional (COO) John Waldron paling cepat pada tahun 2027.
Minggu ini, para pelaku pasar akan mencermati data penting pasar tenaga kerja serta komentar dari pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga. Data lowongan kerja bulan Agustus dijadwalkan rilis pada hari Selasa, sementara sejumlah pejabat The Fed (termasuk Michelle Bowman, Austan Goolsbee, dan John Williams) dijadwalkan memberikan pernyataan.
"Selama harga saham tetap bertahan, kecil kemungkinannya ada faktor yang menghalangi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) untuk ikut naik seiring dengan kenaikan harga energi. Namun, pada akhirnya, data ekonomilah yang akan menentukan apakah tingkat imbal hasil ini dapat bertahan," kata para analis Citi dalam sebuah catatan.
(kunthi fahmar sandy)