Wall Street Ditutup Anjlok usai Trump Pesimis Tak Capai Kesepakatan Damai dengan Iran
Indeks NASDAQ Composite mengakhiri sesi lebih dari 10 persen di bawah rekor penutupan tertingginya baru-baru ini.
IDXChannel - Saham-saham ditutup anjlok pada hari Kamis (26/3/2026), setelah Presiden Donald Trump mengatakan AS tidak yakin apakah mereka mampu membuat kesepakatan damai dengan Iran.
Bahkan harga minyak naik karena pertempuran berkecamuk di Timur Tengah. Dilansir dari laman Investing Jumat (27/3/2026), Indeks NASDAQ Composite mengakhiri sesi lebih dari 10 persen di bawah rekor penutupan tertingginya baru-baru ini.
Indeks yang didominasi saham teknologi ini turun 2,4 persen menjadi 21.408,08 poin, dan sekarang turun 10,6 persen dari rekor penutupan tertingginya di 23.958,47 poin.
Indeks acuan S&P 500 turun 1,7 persen menjadi 6.478,41 poin, sementara indeks Dow Jones Industrial Average turun 1 persen menjadi 45.959,43 poin.
Di sisi lain, saat berbicara dalam rapat Kabinet, Trump mengatakan Iran memohon untuk membuat kesepakatan. "Saya tidak tahu apakah kita akan mampu melakukan itu. Saya tidak tahu apakah kita bersedia melakukan itu. Seharusnya mereka sudah melakukannya empat minggu lalu," kata Trump.
Tak lama setelah penutupan pasar saham, Trump mengunggah di media sosial bahwa, sesuai permintaan pemerintah Iran, ia memperpanjang penangguhan serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari. "Pembicaraan sedang berlangsung," tuturnya.
Pasar pun terus menunjukkan pola perdagangan naik turun, karena investor membuat keputusan perdagangan berdasarkan berita tentang konflik tersebut. Meskipun pelaku pasar sebagian besar berharap akan berakhirnya konflik, pesan yang beragam telah membebani sentimen.
Pergerakan pasar mencerminkan betapa sensitifnya investor terhadap berita harian seputar konflik Iran. Dengan sinyal yang berubah-ubah mengenai apakah resolusi dapat dicapai, pasar diperdagangkan dengan keyakinan yang terbatas.
"Resolusi yang cepat kemungkinan akan menyebabkan reli yang kuat, meskipun awalnya emosional," kata Keith Lerner, Kepala investasi dan kepala strategi pasar di Truist, kepada Investing.com.
"Sebaliknya, konflik yang berkepanjangan atau eskalasi dapat terus menekan pasar, terutama jika harga energi naik secara berkelanjutan, seperti WTI di atas USD100, atau jika suku bunga jangka panjang naik secara signifikan. Bahkan, kenaikan sekitar 10 basis poin pada imbal hasil obligasi pemerintah membebani pasar saham hari ini," katanya.
"Sampai ada kejelasan yang lebih besar, volatilitas kemungkinan akan tetap didorong oleh berita utama daripada fundamental," tutur Lerner.
Indeks utama di Wall Street naik pada sesi sebelumnya, didorong oleh harapan bahwa AS dan Iran mungkin terbuka untuk terlibat dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Namun, suasana tetap optimistis meskipun retorika publik Iran yang keras dalam menolak proposal perdamaian 15 poin dari AS.
(kunthi fahmar sandy)