MARKET NEWS

Wall Street Ditutup Melemah di Tengah Potensi Perundingan Perdamaian AS dan Iran

Kunthi Fahmar Sandy 25/03/2026 06:37 WIB

Wall Street ditutup lebih rendah pada hari Selasa (24/3/2025), ditandai oleh laporan media tentang potensi pembicaraan perdamaian antara AS dan Iran.

Wall Street Ditutup Melemah di Tengah Potensi Perundingan Perdamaian AS dan Iran (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street ditutup lebih rendah pada hari Selasa (24/3/2025), ditandai oleh laporan media tentang potensi pembicaraan perdamaian antara AS dan Iran. Pelemahan saham layanan komunikasi dan tekanan pada saham kredit swasta juga membebani sentimen pasar.

Dilansir dari laman Investing Rabu (25/3/2026), Presiden Donald Trump menegaskan kembali pembicaraan dengan Iran dan dia mengatakan negara itu telah setuju untuk tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Adapun indeks acuan S&P 500 turun 0,3 persen menjadi 6.559,62 poin, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,2 persen menjadi 46.123,72 poin, dan indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,8 persen menjadi 21.761,89 poin.

Trump Sedang Bernegosiasi dengan Iran

"Iran setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Trump kepada wartawan pada upacara pelantikan Menteri Keamanan Dalam Negeri. Trump menyebut bahwa Menteri Luar Negeri AS Mark Rubio dan Wakil Presiden JD Vance termasuk di antara orang-orang yang bernegosiasi dengan Iran.

"Kami berbicara dengan orang yang tepat, mereka ingin membuat kesepakatan," kata Trump. Bahkan, Trump juga menuturkan bahwa Iran telah memberi AS hadiah besar senilai banyak uang di mana hadiah itu terkait dengan minyak dan gas.

Sebelumnya, indeks utama Wall Street mencatat kenaikan pada sesi sebelumnya. Sentimen didukung oleh pengumuman Trump tentang penundaan sementara serangan AS  terhadap pembangkit listrik Iran.

Namun, ketua parlemen Iran menolak klaim tersebut dan menuduh Trump melontarkan komentar itu untuk membantu meredakan pasar keuangan yang bergejolak.

“Pasar sedang berada di ambang optimisme yang rapuh dan meningkatnya risiko geopolitik. Timur Tengah tetap menjadi pendorong utama, dengan harga minyak yang sangat sensitif terhadap gangguan pasokan apa pun. Karena ketegangan terus berlanjut, volatilitas kemungkinan akan tetap tinggi, membuat investor tetap berhati-hati,” kata Lukman Otunuga, Analis Pasar Senior di FXTM, kepada Investing.com.

Bahkan, kantor berita setempat melaporkan memang ada pendekatan antara AS dan Iran, yang diprakarsai oleh Washington, tetapi tidak ada yang mencapai tahap bernegosiasi penuh.

Wall Street Journal mengatakan pemerintahan Trump berencana untuk mengerahkan tim tempur sekitar 3.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 elit Angkatan Darat AS ke Timur Tengah. 

Sementara itu, sebuah berita dari Axios menyebutkan bahwa AS dan sekelompok mediator regional sedang membahas kemungkinan mengadakan pembicaraan damai tingkat tinggi dengan Iran sesegera mungkin pada Kamis.

Pada hari Selasa, Trump memposting ulang unggahan media sosial dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang mengatakan bahwa negara Asia tersebut siap memfasilitasi pembicaraan damai.

"Investor tetap ragu-ragu terhadap pasar saham karena berita utama yang saling bertentangan mengenai intensifikasi dan deeskalasi perang Iran. Spekulasi tentang negosiasi perdamaian terkikis oleh laporan bahwa 3.000 anggota Divisi Lintas Udara ke-82 dikirim ke Timur Tengah," kata Michael O’Rourke, Kepala Ahli Strategi Pasar di Jones Trading, kepada Investing.com.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE