MARKET NEWS

Wall Street Ditutup Melemah, Indeks Nasdaq Turun 5,5 Persen

Kunthi Fahmar Sandy 06/11/2026 06:27 WIB

Wall Street mencatatkan hari terburuknya pada Kamis (5/11/2026), seiring dengan semakin tajamnya penurunan sektor kecerdasan buatan (AI).

Wall Street Ditutup Melemah, Indeks Nasdaq Turun 5,5 Persen (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street mencatatkan hari terburuknya pada Kamis (5/11/2026), seiring dengan semakin tajamnya penurunan sektor kecerdasan buatan (AI).

Sehari setelah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) di AS (yang sempat menghilangkan ketidakpastian signifikan di pasar) para investor kini mulai mencermati potensi dampak politik dari kemenangan tersebut.

Dilansir dari laman Investing (6/11/2026), dengan Partai Demokrat yang kini menguasai kedua kamar Kongres, pelaku pasar khawatir partai tersebut akan menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap sistem AI serta berupaya memperlambat penyebaran pusat data (data center) berskala masif.

Para pelaku pasar juga menerima data pasar tenaga kerja yang cukup kuat, tepat sehari sebelum dirilisnya laporan nonfarm payrolls AS yang sangat dinanti-nantikan.

Indeks NASDAQ Composite menjadi yang paling terpukul, anjlok 5,5 persen dan ditutup pada level 24.315,00 poin. Angka ini mencerminkan penurunan lebih dari 10 persen dari rekor penutupan tertinggi sebelumnya, yang menandakan masuknya indeks tersebut ke dalam fase koreksi. 

Indeks acuan S&P 500 turun 4,3 persen dan berakhir di level 7.358,13 poin. Kedua indeks tersebut mencatatkan kinerja harian terburuk sejak 4 April 2025.

Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 3,4 persen ke level 51.521,28 poin, sekaligus menghapus kenaikan yang sempat dicapai pada hari Rabu.

"Sektor teknologi masih berada di bawah tekanan berat, karena aksi jual pada saham-saham AI dan semikonduktor telah meluas menjadi sentimen penghindaran risiko (risk-off) secara umum. Para investor kini mengevaluasi kembali lingkungan kebijakan terkait pusat data dan pengembangan AI, sembari mempertanyakan prospek laba bagi perusahaan-perusahaan yang paling diuntungkan dari pembangunan infrastruktur tersebut," ujar Keith Lerner, Chief Investment Officer sekaligus Chief Market Strategist di Truist, kepada Investing.com.

"Kami juga melihat adanya aksi mogok beli di sektor teknologi. Meski demikian, tekanan pasar kini semakin meregang. Dalam sebulan terakhir, kinerja sektor teknologi tertinggal 10,6 persen dibandingkan indeks S&P 500 (penurunan terbesar sejak Mei 2002).

Selain itu, rasio valuasi (forward multiple) sektor ini telah turun ke kisaran 17,4x, yang untuk pertama kalinya sejak 2017 berada di bawah rasio 18x milik S&P 500. 

"Tekanan ini mungkin masih bisa berlanjut ke arah penurunan, namun berbagai kekhawatiran tersebut sudah semakin tercermin dalam harga saat ini. Menurut pandangan kami, profil risiko dan imbal hasil (risk-reward) kini menjadi lebih menarik bagi investor jangka panjang," ujarnya.

Saham sektor cip anjlok dan saham perusahaan pusat data (data center) ambruk

Wall Street sempat menguat pada hari Rabu menyusul kemenangan telak Partai Demokrat. Para investor menyambut baik hasil tersebut karena dianggap mampu mengurangi ketidakpastian seputar pemilihan paruh waktu (midterm elections).

Namun, di balik kenaikan yang tampak menyeluruh itu, terdapat pergerakan yang dipengaruhi oleh faktor politik. Secara khusus, saham operator pusat data dan perusahaan penyedia infrastruktur kecerdasan buatan (AI) merosot di tengah ekspektasi akan adanya regulasi yang lebih ketat.

Penurunan saham-saham ini berlanjut pada hari Kamis; saham CoreWeave, Nebius, dan IREN masing-masing terkoreksi antara 10,2 persen hingga 15,8 persen. Produsen cip dan penyedia peralatan semikonduktor juga berada di bawah tekanan berat. 

Raksasa cip AI, Nvidia, mencatatkan penurunan sebesar 8,9 persen sementara kompetitornya, AMD dan Intel, masing-masing anjlok 17,4 persen dan 10,4 persen. Sebelumnya, aksi jual ini juga merembet ke Asia. Di Korea Selatan, saham raksasa cip memori SK Hynix dan Samsung Electronics turun tajam. 

Di Taiwan, Foxconn (produsen kontrak elektronik terbesar di dunia) merosot lebih dari 3 persen, sementara produsen cip kontrak terkemuka, Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC), turun 0,9 persen.

Sentimen pasar juga terbebani oleh laporan laba kuartalan yang mengecewakan dari sejumlah perusahaan besar. Perusahaan perancang cip asal Inggris, Arm, anjlok 13 persen setelah proyeksi pendapatan dan laba untuk kuartal berjalan gagal memenuhi ekspektasi. Kegagalan dalam mencapai target proyeksi ini menutupi capaian positif perusahaan pada kuartal yang berakhir di bulan September.

Sedangkan produsen cip Qualcomm ambles hampir 10 persen akibat pendapatan dari segmen cip ponsel pintar yang mengecewakan, ditambah peringatan mengenai kenaikan biaya di seluruh rantai pasok produksi cip. Faktor-faktor ini menggerus sentimen positif dari proyeksi penjualan yang kuat di unit bisnis cip pusat data milik perusahaan tersebut.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE