MARKET NEWS

Wall Street Ditutup Melemah Tertekan Aksi Jual, The Fed Diproyeksi Naikkan Suku Bunga

Nia Deviyana 16/09/2026 06:10 WIB

Federal Reserve (The Fed) telah memulai rapat kebijakan moneter selama dua hari, yang akan berakhir pada Rabu dengan keputusan suku bunga.

Wall Street Ditutup Melemah Tertekan Aksi Jual, The Fed Diproyeksi Naikkan Suku Bunga. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Wall Street memperpanjang aksi jual pada penutupan Selasa (15/9/2026) waktu setempat di mana kenaikan imbal hasil US Treasury, kekhawatiran yang meningkat terhadap utang, serta lonjakan harga minyak mentah membuat investor enggan masuk ke pasar.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 328,09 poin atau 0,63 persen menjadi 52.093,11. S&P 500 (.SPX) turun 34,25 poin atau 0,45 persen menjadi 7.585,73, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 204,84 poin atau 0,78 persen menjadi 25.981,57.

Federal Reserve (The Fed) telah memulai rapat kebijakan moneter selama dua hari, yang akan berakhir pada Rabu dengan keputusan suku bunga. Data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi solid, sementara tekanan harga energi akibat perang mulai merembet menjadi inflasi yang lebih luas dan sistemik. 

The Fed diperkirakan menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin, yang akan menjadi kenaikan suku bunga pertamanya dalam lebih dari tiga tahun.

Setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pekan lalu dan lonjakan harga minyak mentah AS hampir 25 persen dalam dua pekan terakhir, pasar keuangan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Rabu mencapai 94,5 persen, naik dari 33,1 persen sebulan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Selain itu, konflik di Timur Tengah menjadi faktor tak terduga terkait berapa lama perang tersebut akan berlangsung.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak terdekat dan Brent masing-masing ditutup naik 4,4 persen dan 2,9 persen, sementara kontrak berjangka diesel ditutup pada rekor tertinggi.

Kenaikan suku bunga semakin meningkatkan tekanan terhadap para peminjam yang memiliki beban utang besar, termasuk perusahaan-perusahaan yang telah melakukan investasi besar di bidang AI.

Kekhawatiran tersebut semakin memperburuk ketakutan terhadap potensi AI yang bersifat merusak serta meningkatnya penolakan terhadap pembangunan pusat data. Kekhawatiran itu memuncak pada Senin dan menyeret indeks Philadelphia SE Semiconductor (.SOX) turun.

Indeks semikonduktor, yang turut mendorong kenaikan pasar saham secara luas sepanjang tahun ini, tidak mampu pulih secara signifikan dari aksi jual pada Senin dan hanya menguat 0,4 persen.

Dari 11 sektor utama S&P 500, saham sektor consumer discretionary (.SPLRCD) mencatat penurunan persentase terbesar. Sementara itu, sektor energi yang terdorong kenaikan harga minyak mentah menguat 2,3 persen.

Saham Dave & Buster’s (PLAY.O) anjlok 19 persen setelah perusahaan melaporkan pendapatan kuartal kedua yang lebih rendah dari perkiraan.

Saham Waystar (WAY.O) naik 7,1 persen setelah Reuters melaporkan bahwa perusahaan perangkat lunak kesehatan tersebut tengah menjajaki sejumlah opsi, termasuk kemungkinan penjualan perusahaan.

Jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 2,56 banding 1 di Bursa Efek New York (NYSE). Sebanyak 113 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 673 saham mencatat level terendah baru di NYSE.

Di Nasdaq, sebanyak 1.439 saham menguat dan 3.356 saham melemah, sehingga saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 2,33 banding 1.

S&P 500 mencatat 14 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 18 level terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite mencatat 52 level tertinggi baru dan 264 level terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 15,85 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 15,14 miliar saham dalam satu sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, imbal hasil obligasi global kembali bergerak naik. Imbal hasil US Treasury acuan menembus 5 persen dan mencapai level tertinggi sejak 2007.

(NIA DEVIYANA)

SHARE