MARKET NEWS

Wall Street Ditutup Menguat dengan S&P 500 Tembus 7.200 Pertama Kali Sepanjang Sejarah

Febrina Ratna Iskana 01/05/2026 06:55 WIB

Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (30/4/2026) dengan S&P 500 tembus level 7.200 pertama kali sepanjang sejarah.

Wall Street Ditutup Menguat dengan S&P 500 Tembus 7.200 Pertama Kali Sepanjang Sejarah. (Foto: AP Photo)

IDXChannelBursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup menguat pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Hal itu ditopang hasil kuartalan dari beberapa perusahaan besar termasuk Alphabet dan beberapa penyesuaian posisi investor pada hari terakhir April.

Selain itu, serangkaian data ekonomi yang sebagian besar sesuai ekspektasi dan penurunan harga minyak juga membantu meningkatkan sentimen pasar.

Indeks acuan S&P 500 terpantau naik 1 persen dan ditutup pada 7.210,24 poin, melampaui angka 7.200 untuk pertama kalinya dan mencatatkan penutupan rekor. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,6 persen dan ditutup pada 49.651,95 poin. NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi mengatasi fluktuasi dengan naik 0,9 persen dan ditutup pada 24.892,31 poin.

Dengan capaian tersebut, Wall Street mencatatkan kinerja bulanan terbaik sejak November 2020. Indeks S&P mengakhiri April dengan kenaikan 10,4 persen, sementara Nasdaq naik 15,3 persen. Ini adalah kinerja bulanan terbaik untuk indeks S&P sejak November 2020, dan untuk Nasdaq sejak April 2020.

Bulan ini Wall Street pulih secara signifikan dari kerugian pada Maret yang dipicu oleh konflik Timur Tengah. Kombinasi gencatan senjata yang diperpanjang antara AS, Iran, Israel, dan Lebanon, bersama dengan pernyataan berkelanjutan dari Presiden AS Donald Trump bahwa perang akan segera berakhir, membantu meningkatkan sentimen pasar.

Ekspektasi musim pendapatan yang positif juga mendorong pasar naik, dengan laporan triwulanan dari setidaknya empat anggota klub Magnificent 7 pada Rabu.

“Ini semua tentang momentum dan keinginan untuk mengakhiri bulan dengan catatan positif, dengan sedikit penurunan harga minyak dan imbal hasil yang memberikan alasan yang cukup untuk reli meskipun ada sedikit hambatan pada indeks yang berasal dari penurunan tiga dari empat perusahaan hyperscaler,” kata kepala strategi di Interactive Brokers, Steve Sosnick, kepada Investing.com.

“Sepanjang bulan ini, di mana kita mendekati reli 10 persen di SPX, kita telah melihat saham merespons positif ketika harga minyak dan imbal hasil turun tetapi hampir tidak bergerak ketika keduanya naik, jadi ini sesuai dengan pola yang sekarang sudah mapan. Selama arus berita tidak terlalu buruk, saham telah menunjukkan kecenderungan untuk naik. Alasan agak opsional,” tambah Sosnick.

Kinerja Beragam Perusahaan Teknologi Besar

Di sisi lain, Alphabet memimpin apa yang oleh analis Deutsche Bank digambarkan sebagai serangkaian pendapatan yang "cukup baik" dari anggota kelompok Magnificent 7, yaitu para pemain besar industri teknologi.

Saham perusahaan induk Google mencapai rekor tertinggi dan ditutup naik 10 persen, sebagian berkat pertumbuhan pendapatan cloud yang lebih baik dari perkiraan.

Amazon juga mencapai rekor tertinggi, ditutup 0,8 persen lebih tinggi. Raksasa e-commerce ini mencatatkan ekspansi pendapatan terbesar di unit utamanya, Amazon Web Services, sejak 2022.

Pendapatan cloud di raksasa teknologi Microsoft kurang lebih sesuai dengan ekspektasi, sementara perusahaan tersebut memperkirakan percepatan di paruh kedua tahun ini. Namun, sahamnya ditutup turun 3,9 persen.

Meta Platforms anjlok 8,6 persen, setelah pemilik Instagram tersebut menaikkan pengeluaran modal yang diusulkan untuk 2026 sebesar USD20 miliar menjadi antara USD125 miliar hingga USD145 miliar.

Secara keseluruhan, keempat raksasa tersebut mengeluarkan dana sebesar USD130,65 miliar dalam tiga bulan pertama tahun ini, sebagian besar untuk membangun pusat data yang dibutuhkan untuk mendukung AI. Angka tersebut 71 persen lebih besar daripada yang mereka belanjakan pada kuartal yang sama tahun lalu.

"Yang benar-benar diperhatikan investor adalah persaingan pengeluaran AI, dan tadi malam mengkonfirmasi bahwa hal itu semakin cepat, bukan melambat," kata kepala analis pasar di AvaTrade, Kate Leaman.

"Secara kolektif, perusahaan-perusahaan ini berkomitmen ratusan miliar dolar untuk infrastruktur AI – dan meskipun pengembalian awal terlihat menjanjikan, biaya tunai mulai terlihat. Pertanyaan yang diajukan pasar bukan lagi 'apakah mereka berinvestasi cukup?' tetapi 'kapan itu akan membuahkan hasil?'" tambah Leaman.

Anggota Magnificent 7 lainnya, Apple, akan melaporkan hasil setelah penutupan pasar pada Kamis.

Dalam pergerakan terkait pendapatan lainnya, Caterpillar melonjak 9,9 persen, memberikan dorongan besar pada Dow Jones. Konglomerat industri tersebut menaikkan panduan pendapatan tahunan dan jangka panjangnya.

Harga Minyak Turun

Beralih ke Timur Tengah, sebuah laporan berita memicu lonjakan harga minyak kembali, meskipun kenaikan ini kemudian mereda.

Trump akan menerima pengarahan tentang kemungkinan serangan militer lain terhadap Iran pada Kamis, lapor Axios. Tindakan ini bertujuan untuk membujuk Teheran kembali ke meja perundingan, setelah pembicaraan terhenti karena kebuntuan terkait ambisi nuklir Iran.

"Iran sangat ingin mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan pada Kamis, menambahkan bahwa "mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir."

Kontrak minyak mentah Brent berjangka yang berakhir pada Juni, patokan minyak global, terakhir turun 3,3 persen menjadi USD114,08 per barel, setelah menyentuh level tertinggi intraday lebih dari USD126 per barel. Kontrak Juni untuk pengiriman akan berakhir pada hari Kamis.

Meskipun terjadi penurunan, Brent masih jauh di atas level sebelum perang sekitar USD70 per barel, yang mendukung kekhawatiran akan lonjakan inflasi kembali di berbagai negara di seluruh dunia yang pada gilirannya dapat menyebabkan bank sentral menaikkan suku bunga.

Adapun Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tetap seperti yang diharapkan pada Rabu, meskipun dalam keputusan yang paling kontroversial sejak awal tahun 1990-an, sebuah gambaran yang menunjukkan perpecahan mendalam yang tumbuh di antara para pejabat.

Meskipun mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50-3,75 persen, Fed juga memilih untuk tidak mengubah bahasa pernyataan kebijakannya, yang saat ini menunjukkan bahwa langkah selanjutnya untuk suku bunga akan turun daripada naik. Empat dari 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal yang menetapkan suku bunga menentang pernyataan tersebut.

Ketua Fed Jerome Powell juga menyatakan bahwa ia akan tetap berada di dewan bank sentral setelah masa jabatannya berakhir pada Mei, sebuah penyimpangan besar dari preseden masa lalu yang dapat membayangi penyerahan jabatan kepada Kevin Warsh, pilihan Trump untuk menggantikan Powell.

Di tempat lain, Bank of England juga mempertahankan suku bunga, begitu pula Bank Sentral Eropa.

Selain itu, para pelaku pasar pada Kamis juga menerima kalender ekonomi yang padat, dengan pembaruan penting tentang pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Menurut Biro Analisis Ekonomi AS, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti - yang secara luas dianggap sebagai ukuran inflasi pilihan Fed - naik tipis 0,3 persen secara monthn to month (MtM) pada Maret, sesuai dengan perkiraan konsensus dan melambat dari kenaikan 0,4 persen pada Februari. Indeks harga PCE utama melonjak 0,7 persen MtM pada Maret, juga sesuai dengan konsensus.

Secara tahunan, deflator PCE inti melonjak 3,2 persen pada Maret, sementara angka utama meningkat 3,5 persen. Kedua angka tersebut sesuai dengan perkiraan konsensus, tetapi meningkat dari angka Februari.

"Inflasi PCE melonjak menjadi 3,5 persen pada Maret, tertinggi dalam tiga tahun (sejak Mei 2023). Ini adalah akibat langsung dari perang di Iran. Dan penderitaannya hampir pasti akan lebih buruk pada bulan April dan (kemungkinan) Mei," kata kepala ekonom di Navy Federal, Heather Long, di X.

Secara terpisah, Biro Analisis Ekonomi AS merilis perkiraan pertama pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS untuk kuartal pertama tahun 2026. Ekonomi meningkat pada tingkat tahunan 2 persen, lebih rendah dari perkiraan kenaikan 2,1 persen tetapi lebih tinggi dari kenaikan 0,5 persen pada kuartal IV- 2025.

"Pertumbuhan PDB pulih dengan kuat, naik 2 persen pada kuartal pertama dibandingkan hanya 0,5 persem pada kuartal IV-2025,  tetapi masih sedikit lebih rendah dari yang diharapkan," kata, kepala investasi di Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.

"Selama ekonomi terus tumbuh dan perusahaan mampu meningkatkan pendapatan, kita dapat melihat harga saham yang lebih tinggi bahkan di tengah kenaikan harga energi dan inflasi. Namun, semakin lama perang berlanjut, semakin banyak investor yang akan merasa cemas dan kita mungkin akan melihat beberapa penurunan harga saham karena kekhawatiran yang datang dan pergi," tambah Zaccarelli.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE