Wall Street Ditutup Menguat Usai Iran Buka Peluang Dialog, Sektor Teknologi Pimpin Rebound
Investor kembali memburu saham teknologi, mendorong Nasdaq naik dan menjaga indeks tersebut tetap berada di zona positif.
IDXChannel - Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada Rabu (4/3/2026) waktu setempat, setelah laporan menyebutkan bahwa Iran memberi sinyal keterbukaan untuk berunding dan janji Presiden AS Donald Trump untuk menstabilkan pasar minyak. Hal ini berhasil meredakan kecemasan investor atas konflik di Timur Tengah.
Melansir reuters, S&P 500 (.SPX) naik 52,83 poin atau 0,78 persen ke 6.869,46, sementara Nasdaq Composite (.IXIC) melonjak 290,79 poin atau 1,29 persen ke 22.807,48. Dow Jones Industrial Average (.DJI) bertambah 228,86 poin atau 0,49 persen ke 48.738,98.
Investor kembali memburu saham teknologi, mendorong Nasdaq naik dan menjaga indeks tersebut tetap berada di zona positif. S&P 500 juga tetap berada dekat dengan rekor penutupan tertingginya pada Januari.
Laporan The New York Times menyebutkan bahwa aparat intelijen Iran secara tidak langsung menghubungi CIA sehari setelah serangan. Namun, pejabat AS masih skeptis bahwa pemerintahan Trump maupun Iran siap untuk melakukan de-eskalasi dalam waktu dekat.
Pengumuman Trump terkait pengawalan angkatan laut AS bagi kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz serta penyediaan asuransi risiko politik juga memberikan sedikit kelegaan.
"Pengumuman Gedung Putih tersebut meredakan kekhawatiran akan gangguan besar di pasar minyak yang dapat mendorong kenaikan harga energi dan menekan inflasi," kata senior managing director di Clearstead Advisors LLC di New York, Jim Awad.
Kelegaan ini memberi kepercayaan diri bagi investor untuk kembali membeli saham-saham teknologi yang sempat terkoreksi tajam pada Februari dan kini dinilai relatif murah dibanding beberapa pekan lalu.
"Kombinasi faktor tersebut memberi pasar sedikit optimisme, yang akan diuji dalam beberapa minggu ke depan. Saatnya bersikap realistis dan tidak terbawa suasana, baik terlalu optimistis maupun terlalu pesimistis," ujar Awad.
Sejumlah negara di Timur Tengah sementara menghentikan produksi minyak dan gas, sementara AS tengah mempertimbangkan perluasan kampanye militernya di dalam wilayah Iran.
(NIA DEVIYANA)