Wall Street Kembali Menghijau Jelang Akhir Pekan, Ditopang Kinerja Positif Emiten
Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali ditutup menguat pada perdagangan Jumat (22/5/2026) waktu setempat.
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali ditutup menguat pada perdagangan Jumat (22/5/2026) waktu setempat, menandai kenaikan selama delapan pekan berturut-turut atau yang terbaik sejak 2023. Penguatan terjadi meski survei terbaru menunjukkan konsumen AS semakin pesimistis terhadap kondisi ekonomi.
Dikutip dari AP, indeks S&P 500 berakhir naik 0,4 persen dan semakin mendekati rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pekan lalu. Dow Jones Industrial Average menguat 294 poin atau 0,6 persen, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,2 persen.
Kenaikan pasar ditopang oleh sejumlah emiten ritel dan teknologi. Saham Ross Stores melesat 8,1 persen setelah mencatat laba dan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi analis.
Chief Executive Officer (CEO) Ross Stores, Jim Conroy mengatakan, trafik pelanggan tetap kuat sepanjang kuartal tersebut dan perusahaan kemungkinan mendapat dorongan dari belanja masyarakat menggunakan dana pengembalian pajak.
“Kami melihat lalu lintas pelanggan tetap kuat selama kuartal berlangsung,” ujarnya.
Selain itu, saham Estee Lauder melonjak 11,9 persen usai perusahaan memastikan tidak lagi mempertimbangkan merger dengan Puig, perusahaan parfum dan produk kecantikan asal Spanyol. Sementara Workday naik 5,2 persen dan Zoom Communications menguat 9,2 persen setelah membukukan laba di atas perkiraan pasar.
Kinerja positif sejumlah perusahaan tersebut membuat Wall Street tetap bertahan di dekat level tertinggi meski tekanan ekonomi masih membayangi. Secara jangka panjang, pergerakan saham memang cenderung mengikuti pertumbuhan laba korporasi.
Di sisi lain, survei University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS turun ke level terendah sepanjang sejarah, bahkan lebih buruk dibandingkan periode inflasi di atas 9 persen pada 2022. Kekhawatiran masyarakat meningkat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu perang dengan Iran.
Survei itu juga menunjukkan konsumen memperkirakan inflasi dalam 12 bulan ke depan naik menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 4,7 persen. Untuk jangka panjang, ekspektasi inflasi meningkat menjadi 3,9 persen dari 3,5 persen. Kondisi ini menjadi perhatian ekonom karena dapat memicu siklus inflasi berkepanjangan.
Harga minyak yang terus berfluktuasi turut memperbesar ketidakpastian pasar. Minyak mentah Brent kontrak Agustus ditutup naik 0,7 persen ke level USD100,21 per barel setelah sebelumnya sempat melemah. Pasar masih menanti kepastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang terdampak konflik antara AS dan Iran.
Kenaikan inflasi juga mendorong imbal hasil obligasi global tetap tinggi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di level 4,56 persen, sedikit turun dari 4,57 persen sehari sebelumnya, namun masih jauh di atas level 3,97 persen sebelum perang pecah. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.
Gubernur The Fed, Christopher Waller mengatakan bank sentral masih akan mencermati perkembangan konflik dan data ekonomi sebelum mengambil langkah lanjutan.
“Sekarang adalah waktunya untuk menunggu dan melihat bagaimana konflik serta data bergerak,” ujarnya.
(Rahmat Fiansyah)