MARKET NEWS

Wall Street Lesu Seiring Lonjakan Harga Minyak dan Investor Cermati Potensi Kenaikan Suku Bunga

Dhera Arizona Pratiwi 01/09/2026 06:14 WIB

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026) waktu setempat.

Wall Street Lesu Seiring Lonjakan Harga Minyak dan Investor Cermati Potensi Kenaikan Suku Bunga. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026) waktu setempat, dengan mengakhiri bulan yang penuh volatilitas di mana lonjakan harga minyak mentah akibat perang memicu kembali kekhawatiran inflasi dan meningkatkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.

Dilansir dari Reuters, Selasa (1/9/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 374,09 poin atau 0,70 persen menjadi 53.185,90, S&P 500 merosot 25,62 poin atau 0,33 persen ke level 7.686,14, dan Nasdaq Composite melemah 31,53 poin atau 0,12 persen menjadi 26.370,89.

Lonjakan harga minyak meredam minat risiko investor dan mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) acuan, sementara investor mencerna pernyataan bernada hawkish dari Ketua Federal Reserve AS Kevin Warsh dalam pidatonya di Simposium Jackson Hole pada Jumat.

Terlepas dari aksi jual yang meluas, ketiga indeks saham utama AS mencatatkan kenaikan bulanan. Nasdaq mencatat pertumbuhan persentase terbesar untuk Agustus berkat masih kuatnya minat pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), meskipun sempat melemah belakangan ini. Indeks blue chip Dow Jones mencatatkan kenaikan bulanan untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

"Kami telah mendengar pernyataan Warsh pekan lalu, dan peluang saat ini lebih condong pada kenaikan suku bunga di bulan September," ujar Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz.

Kebuntuan yang berkepanjangan dan penutupan Selat Hormuz yang terkait dengannya memicu kekhawatiran bahwa tekanan kenaikan harga energi dapat berkembang menjadi inflasi sistemik yang lebih luas, yang pada akhirnya dapat memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga paling cepat bulan depan.

"Para investor juga kembali mencermati komentar-komentar yang disampaikan Warsh di Jackson Hole, serta apa implikasinya terhadap suku bunga dan inflasi," ujar Penasihat Kekayaan Senior dan Ahli Strategi Pasar di Murphy & Sylvest, Paul Nolte.

"Jika mereka tidak menaikkan suku bunga pada bulan September, menurut saya pasar akan bereaksi secara dramatis karena selama ini pasar sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga tersebut," katanya.

Di antara 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, saham sektor energi mencatatkan kenaikan persentase terbesar, didorong oleh lonjakan harga minyak mentah.

Di bursa NYSE, jumlah saham yang turun melampaui jumlah saham yang naik dengan rasio 1,95 banding 1. Tercatat 112 saham mencapai level tertinggi baru dan 234 saham mencapai level terendah baru di NYSE.

Di bursa Nasdaq, 1.859 saham naik dan 2.931 saham turun, dengan jumlah saham yang turun melebihi jumlah saham yang naik pada rasio 1,58 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat 5 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 11 level terendah baru, sementara indeks Nasdaq Composite mencatat 40 level tertinggi baru dan 146 level terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat sebesar 15,65 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 15,58 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

(Dhera Arizona)

SHARE