Wall Street Menguat Ditopang Sentimen AI dan Meredanya Konflik Iran
Saham-saham sektor semikonduktor menjadi salah satu pendorong utama kenaikan pasar.
IDXChannel - Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026) waktu setempat seiring membaiknya sentimen investor terhadap sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta meredanya konflik Iran.
Melansir Investing, indeks S&P 500 naik 0,6 persen ke level 7.449,90. Indeks teknologi Nasdaq Composite menguat 0,8 persen menjadi 26.120,84, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 0,5 persen ke posisi 51.052,55.
Saham-saham sektor semikonduktor menjadi salah satu pendorong utama kenaikan pasar. Kelompok saham ini berhasil bangkit setelah mengalami aksi jual tajam pada akhir pekan lalu menyusul hasil kinerja kuartalan perusahaan chip AI, Broadcom, yang dinilai kurang memuaskan pasar.
Analis UBS menilai, prospek jangka panjang pengembangan teknologi AI masih tetap menarik meski volatilitas diperkirakan masih akan terjadi dalam jangka pendek.
"Meski volatilitas dua arah masih mungkin terjadi dalam waktu dekat, kami tetap konstruktif terhadap pembangunan ekosistem AI secara luas. Investor yang memiliki eksposur berlebihan pada satu saham tertentu sebaiknya mengurangi risiko konsentrasi sambil tetap mempertahankan eksposur terhadap tema AI yang lebih luas," tulis UBS dalam risetnya.
Adapun saham perusahaan pengembang obat kanker Nuvalent melonjak tajam setelah GlaxoSmithKline sepakat mengakuisisi perusahaan tersebut senilai USD10,6 miliar.
Sebaliknya, saham Vail Resorts melemah setelah perusahaan memangkas proyeksi kinerja setahun penuh akibat rendahnya curah salju yang menekan jumlah kunjungan ke resor ski miliknya.
Selain sentimen teknologi, pasar juga mendapat dorongan dari meredanya kekhawatiran terkait inflasi energi. Harga minyak mentah Brent turun 2,8 persen menjadi USD91,64 per barel, meski masih berada di atas level sebelum pecahnya perang pada akhir Februari lalu.
Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul indikasi bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan damai yang berpotensi mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Analis Vital Knowledge menyebut, Gedung Putih mengisyaratkan kesepakatan damai dapat tercapai dalam hitungan hari.
Jika perjanjian tersebut berhasil diteken, pasar memperkirakan imbal hasil obligasi dan harga minyak berpotensi turun lebih lanjut, bahkan jika kondisi di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal.
(DESI ANGRIANI)