Waskita Karya (WSKT) Catat Rugi Rp2,87 Triliun hingga September 2026
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat kerugian jumbo hingga Rp2,87 triliun untuk periode Januari-September 2026.
IDXChannel - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat kerugian jumbo hingga Rp2,87 triliun untuk periode Januari-September 2026. Kerugian ini relatif berkurang dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp3,17 triliun.
Dalam laporan keuangan interim kuartal III yang disampaikan pada Selasa (13/10/2026), pendapatan usaha Waskita tumbuh 54 persen menjadi Rp8,12 triliun. Namun, beban pokok pendapatan naik 66 persen menjadi Rp7,16 triliun.
Alhasil, kenaikan pendapatan tersebut gagal mendongkrak profitabilitas Waskita. Laba kotor BUMN konstruksi itu justru turun 2,14 persen menjadi Rp959,4 miliar.
Sementara beban operasional masih tinggi, terutama dari beban umum dan administrasi yang mencapai Rp1,06 triliun. Dengan beban tersebut, Waskita mencatat rugi operasional sebesar Rp306,68 miliar.
Kondisi ini semakin diperberat dengan beban keuangan yang mencapai Rp2,79 triliun, akibat tingginya utang. Dengan begitu, rugi bersih Waskita mencapai Rp2,87 triliun.
Waskita tengah dililit utang yang nilainya signifikan. Posisi liabilitas keuangan perseroan menembus Rp68,68 triliun. Rinciannya dari yang terbesar yakni utang bank jangka panjang Rp41,40 triliun, utang obligasi Rp7,43 triliun, utang lembaga keuangan nonbank Rp6,90 triliun, dan sukuk Rp1,15 triliun.
Selain itu, Waskita juga masih memiliki utang usaha Rp4,61 triliun, utang bruto subkontraktor Rp1,54 triliun, serta biaya yang masih harus dibayar Rp3,24 triliun.
Kondisi ini membuat rasio utang terhadap modal atau debt to equity ratio (DER) mencapai 66,78 kali. Hingga akhir September, ekuitas Waskita tersisa Rp1,04 triliun.
Likuiditas Waskita juga tertekan dengan arus kas dari aktivitas operasi yang negatif Rp1,14 triliun, menandakan uang masuk yang keluar lebih banyak dibandingkan yang masuk. Sementara arus kas dari pendanaan minus Rp625,5 miliar karena perseroan harus membayar pokok dan bunga utang cukup besar.
Untuk memperbaiki keuangan, perseroan telah menetapkan delapan inisiatif penyehatan keuangan. Strategi itu mulai dari divestasi atas kepemilikan jalan tol, restrukturisasi utang, baik induk maupun anak usaha, hingga memperketat seleksi proyek yang berisiko tinggi, terutama dari sisi tempo pembayaran.
(Rahmat Fiansyah)