WIKA Pangkas Utang hingga Rp2,15 Triliun, Hasil Selektif Pilih Proyek dan Jaga Arus Kas
WIKA terus berkomitmen menjalankan agenda transformasi dan penyehatan keuangan yang telah diinisiasi sejak 2023.
IDXChannel - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) terus berkomitmen menjalankan agenda transformasi dan penyehatan keuangan yang telah diinisiasi sejak 2023. Komitmen pemulihan kinerja tersebut membuahkan hasil nyata yang tecermin dari keberhasilan perseroan memangkas total utang sebesar Rp2,15 triliun sepanjang periode kuartal II-2025 hingga kuartal II-2026.
Penurunan kewajiban tersebut bersumber dari pemenuhan komitmen pembayaran kepada para kreditur perbankan serta mitra kerja.
Mengacu pada laporan keuangan per 30 Juni 2026, WIKA telah melunasi kewajiban kepada kreditur perbankan dan pemegang surat utang senilai total Rp4,17 triliun pasca-pelaksanaan restrukturisasi keuangan tahap I pada 28 Februari 2024, di mana sebesar Rp915,83 miliar di antaranya diselesaikan sepanjang kuartal II-2025 hingga kuartal II-2026.
Pada saat yang sama, emiten konstruksi pelat merah ini berhasil menekan nilai utang kepada mitra kerja sebesar Rp5,02 triliun sejak dimulainya restrukturisasi tahap I. Khusus pada rentang kuartal II-2025 sampai kuartal II-2026, penurunan utang kepada mitra kerja tercatat mencapai Rp1,23 triliun, sehingga sisa posisi kewajiban perseroan kepada mitra kerja saat ini berada di angka Rp4,32 triliun.
Corporate Secretary WIKA Ngatemin memaparkan bahwa capaian penurunan pokok utang tersebut merupakan hasil dari disiplin pengelolaan arus kas operasional perusahaan yang dijalankan secara mandiri dan konsisten.
"Perbaikan di sisi kas operasi juga diperkuat dengan pemilihan proyek secara selektif berbasis pembayaran bulanan (monthly progress) yang telah mencapai 96 persen dari total kontrak berjalan, serta upaya percepatan penagihan piutang," ungkap Ngatemin, dalam keterangannya, dikutip Minggu (30/8/2026).
Seturut akselerasi penagihan tersebut, total piutang WIKA berhasil susut sebesar Rp2,07 triliun sepanjang kuartal II-2025 hingga kuartal II-2026. Penurunan piutang ini secara langsung memperkuat ketersediaan likuiditas perseroan dalam mendanai aktivitas usaha.
Dari sisi operasional, WIKA turut membukukan perbaikan margin keuntungan, di mana Gross Profit Margin (GPM) pada kuartal II-2026 terkerek naik menjadi 14,1 persen dibandingkan 8,1 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan margin laba kotor ini ditopang oleh aktivitas bisnis utama perseroan di sektor infrastruktur, bangunan gedung, serta Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC).
Perbaikan kinerja operasional tersebut juga tecermin dari perolehan EBITDA operasi yang positif mencapai Rp769,01 miliar pada kuartal II-2026.
"Penerapan langkah transformasi ini menjadi bagian penting dari penyehatan yang dilakukan WIKA. Penurunan utang mitra kerja dan kreditur, pengelolaan kas secara tepat, peningkatan tata kelola, penurunan OPEX dan penerapan lean construction menjadi prioritas utama perseroan dalam memastikan keberlanjutan bisnis yang sehat dan kuat. Langkah ini sekaligus menjaga kualitas kinerja operasional semakin optimal di tengah tantangan sektor konstruksi," ucapnya.
Ngatemin menegaskan bahwa seluruh rangkaian transformasi penyehatan ini akan terus dieksekusi secara berkesinambungan demi menjaga keberlangsungan bisnis perseroan serta memberikan nilai tambah yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan. (Febrina Ratna Iskana)