News

41 Persen Anak Sekolah Punya Gigi Berlubang, Kemenkes Pilih SD Jadi Garis Depan Penanganan

Niko Prayoga 17/09/2026 14:33 WIB

Saat pengecekan kesehatan gratis, Kemenkes banyak menemukan masalah gigi pada anak sekolah.

41 Persen Anak Sekolah Punya Gigi Berlubang, Kemenkes Pilih SD Jadi Garis Depan Penanganan. (Foto: MNC Media)

IDXChannelKementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa sebanyak 41 persen atau sekitar 4 dari 10 anak di Indonesia mengalami masalah gigi berlubang.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono. Dante mengatakan, temuan ini didapatkan dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Kemenkes. 

Tingginya angka tersebut menjadi alasan utama pemerintah memilih sekolah dasar sebagai garis depan penanganan, ketimbang menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Saat pengecekan kesehatan gratis, Kemenkes banyak menemukan masalah gigi pada anak sekolah.

"Jadi, kita ketemu 41 persen anak di Indonesia yang diperiksa giginya itu berlubang. Jadi 4 dari 10 anak-anak mempunyai gigi bberlubang. Makanya kita gerakkan kesehatan gigi di sekolah," kata Dante saat diwawancarai usai menghadiri acara Pekan Kesehatan Gigi Nasional di SDN 01 Menteng, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Ia menjelaskan, gigi berlubang sering kali dianggap sepele dan sekadar urusan estetika atau rasa nyeri sesaat. Padahal, dampak infeksi bakteri dari mulut dapat merembet ke organ vital tubuh lainnya, termasuk jantung.

Dante menjelaskan bahwa bakteri yang bersarang di gigi berlubang dapat memicu gangguan serius pada katup jantung anak di usia muda.

"Kenapa ini penting untuk kesehatan? Kesehatan gigi bukan cuma soal kesehatan mulut saja, tapi kesehatan gigi itu berkaitan dengan penyakit sistemik lainnya. Tadi saya sampaikan salah satunya adalah kesehatan jantung,” tambah dia.

Menurut Dante, saat kondisi gigi berlubang, terdapat kuman Streptococcus beta-hemolyticus Grup A yang bisa menyebabkan kelainan pada katup jantung. 

“Ada namanya kuman Streptococcus beta-hemolyticus Grup A. Ini yang ada di gigi yang berlubang yang bisa menyebabkan kelainan katup di jantung, namanya penyakit jantung rematik," ungkap Dante. 

Ia menambahkan, jika penyakit jantung rematik ini menyerang sejak dini, kualitas hidup dan kesehatan anak akan terganggu dalam jangka panjang.

Maka dari itu, untuk menekan angka kasus tersebut, Kemenkes mengusung dua langkah utama, yaitu preventif (pencegahan) dan promotif (edukasi). Langkah paling mendasar dimulai dari kebiasaan harian menyikat gigi secara benar dan pada waktu yang tepat.

"Preventifnya bagaimana? Supaya email giginya enggak rusak, lapisan giginya enggak rusak, mereka harus menyikat gigi dengan benar. Kemudian yang kedua, waktu menyikat gigi juga harus benar. Itu biasanya kita anjurkan sesudah sarapan dan sebelum tidur, supaya giginya bersih, tidak tersisa makanan," tutur dia.

Tak hanya itu, Kemenkes juga meluncurkan inisiasi edukatif yang melibatkan siswa secara langsung melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) lewat konsep 'Detektif Gigi Berlubang'. Pemerintah bahkan telah menyiapkan modul kurikulum khusus untuk melatih anak-anak saling memantau kesehatan gigi teman sebayanya.

"Anak-anak di UKS diajarkan untuk menjadi 'Detektif Gigi Berlubang' supaya mereka bisa periksa teman-temannya. Kita ajarin, ada kurikulumnya, kita udah buat modul kurikulum untuk sekolah dari Kemenkes untuk lihat, 'Oh ini giginya masih lubang'. Nanti kalau ketemu gigi yang berlubang, dilaporkan ke gurunya, gurunya bisa melakukan rujukan ke Puskesmas terdekat," pungkas Dante. 

(Nadya Kurnia)

SHARE